Mungkin


Versi hiperbolanya, udah berjuta-juta lomba Ekonomi-Akuntansi gue ikuti. Hasilnya? Gak pernah sesuai ekspektasi alias dibawah juara 1.
Kemarin gue abis lomba di sebuah universitas swasta di Jakarta. Hasilnya............juara sih. Tapi masih juara 'berharap jadi 1'
Kalau kata orang, mungkin belum saatnya. Atau mungkin, karena kemarin Smansa gak telat dateng lombanya? Soalnya, menurut cerita-cerita, kalo Smansa datengnya telat, bisa diperkirakan bakal jadi juara. Gaktau deh siapa yang memulai mitos tersebut.
Lelah sama semua ini, udah banyak banget ngecewain orang.
Gue gak mau jatuh terlalu lama. Kemarin, abis final lomba tersebut, kan gue sholat dulu. Trus pas balik sholat, gue liat anak yang ikut lomba yang sama kayak gue, tapi dia juara harapan 2, dan muka anak itu sediiiih banget. Dia duduk sendiri di koridor, diem aja. Padahal temen-temennya yang lain lagi pada ngePES di ruangan. Sampe gue mau pulang, dia masih sendirian, di belakang. Gue gak mau jadi anak itu. Yang jatuh dan (mungkin) gak bisa bangkit lagi atau bisa bangkit tapi relatif lebih lama.
Mungkin gue terlalu lalai, belum rajin ibadahnya, sering menganggap ringan suatu masalah, belum bisa megang amanah, masih cengengesan, masih lemah. Harus lebih banyak introspeksi. Mengacu kepada quote "Sometimes, you gotta fall before you fly" iya, emang harus jatuh dulu buat bisa terbang. Ya kan gak mungkin lah bisa menang tapi belum pernah ngerasain kalah. Roda selalu berputar bro.
Mungkin kali ini roda gue lagi di bawah, tapi suatu saat gue akan berlari sprint dan menyentuh bintang-bintang. Gue belum akan menyerah, sampai keadaan meminta gue untuk menyerah.

"You're never a loser until you quit trying."


"Jadi yang nomor 1 belum tentu yang terbaik"

Comments