Frustasi Karena Kenyamanan.

Terkadang, kita dipaksa buat ada di lingkungan yang harus dibikin nyaman. Ibaratnya, lo dijeblosin ke kandang singa, dan harus nyaman buat tinggal bareng singa itu.
Nyaman.
Ya, menurut gue kenyamanan adalah salah satu faktor yang membantu gue untuk berkembang. Nyaman tidak nyamannya suatu lingkungan, mendorong gue untuk berbuat lebih dari biasanya.
SMA, masa dimana gue berkumpul dengan banyak orang-orang hebat. Ketemu guru-guru jawara, kakak-kakak yang menginspirasi gue. Disinilah gue, mau gak mau, harus nyaman sama mereka. Kenapa? Gak ada mereka, kapan gue bisa berubah dan berkembang?
Nyaman atau tidaknya suatu lingkungan, terkadang memang harus dipaksakan dan diteken terus biar bisa nyaman. Tapi, ada juga kenyamanan yang memang datang dari lingkungan itu sendiri. Gue gak perlu berusaha keras membuatnya nyaman, lingkungan itu yang membuat gue nyaman dan betah ada di lingkungan itu. Karena nyaman itulah, gue bisa berbuat lebih dari biasanya.
Tiga tahun di Smansa, tiga tahun ada di pergaulan yang menurut gue sangat aman. Entah kenapa, tiba-tiba gue ngerasa frustasi sendiri gimana nanti gue kuliah. Jujur, kalo gue ngeliat SMA gue dibanding SMA yang gue lihat di film-film Indonesia jaman baheula, SMA gue sangatlah homogen. Gue dikelilingi hawa religius dan kompetisi yang kuat. Beda sama SMA yang gue liat di film, lebih penuh huru-hara, lebih rame. Gue dulu inget banget nonton film Catatan Akhir Sekolah pas gue baru mau masuk SMA. Gue mikir "Jadi gue bakal menghadapi ini semua tiga tahun ke depan?" Nah, berbeda setelah gue duduk di kelas 12, gue kembali nonton film ini dan berpikir "SMA gue kok gak begini ya?" Dan beberapa minggu yang lalu gue sempet frustasi sama hal ini. Gimana nanti kuliah yang lebih plural? Gue akan ketemu orang-orang yang cara pikirnya gak bakal sama kayak gue. Entah bedanya cuma dikit, beda aja, atau beda banget.
Gue belum tau gimana dunia kuliah. Apakah sekejam yang kakak-kakak gue ceritain atau bisa saja melembut. Yang jelas, gue pasti akan sangat kangen dengan SMA gue. Dengan segala kenyamanan dan kehomogenan kita. Cara pikir kita yang masih idealis. Pertemanan yang jarang ada senggol bacoknya. Persaingan yang gak terlihat seperti bersaing.
 Kalo kata Doris Day sih,
Que sera, sera
Whatever will be, will be
The future's not ours to see
Que sera, sera


Comments