First World Problem : Males Ngantri

Dari kecil, kita sudah dididik untuk bisa antri dengan tertib. Terutama di usia TK dan SD, ingat?
Dengan berbagai cara, kita disosialisasikan untuk bisa sabar menunggu antrian. Mulai dari perintah sederhana
seperti "Ayo baris yang rapi ya.." "Ayo antri dulu, bikin barisan ke belakang" sampai dengan analogi seperti "Bebek aja bisa antri, masa kalian tidak?" dan sebagainya.
Nah kemarin, gue dan teman-teman merasakan sakitnya (versi lebaynya) dizholimi orang-orang yang
kayaknya saking lamanya gak pernah disosialisasiin lagi buat "antri yang tertib"
Bahkan, yang kayaknya baru beberapa tahun lalu disuruh belajar antri, sudah mulai melupakan apa arti kata "antri"
Berawal dari rencana pergi ke Walls Ice Cream Day, event gratisan terbesar yang menurut kami, para pelajar, adalah sebuah kemewahan yang langka banget untuk didapatkan. Tanpa wacana, berangkatlah gue
bersama Aa, Adzra, Kania, Surya, Nody, Danang, Bimbim, Adhita. Let's go!

Sampai di venue!
Sampai di venue, tersedia stand untuk mendapatkan es krim gratis. Syaratnya, antri dulu.

Disinilah petaka mulai terjadi.

Gue, Danang, Nody barisnya udah rada di belakang. Es krim sudah mulai menipis. Yang antri makin membludak. Tentunya massa mulai panik dong kalau kehabisan es krim? Semua perjuangan buat sampai ke venue, menurut mereka, mungkin akan sia-sia kalau tidak bisa merasakan es krim gratis tersebut. Apa yang terjadi selanjutnya? Beberapa warga mulai menyeruak ke depan dan malah mengepung si mbak-mbak pemberi es krim dari belakang, which means, nyerobot. Bapak A di samping gue ada yang teriak "Eh mundur itu, antri dong!" Bagaikan koor, Bapak B mulai kompak dengan Bapak A dengan berteriak "Kita udah antri nih daritadi. Gak bisa gitu dong!"
Bapak A dan Bapak B berkolaborasi "Itu yang ngantri di belakang gak usah dilayani, Mbak!"
Dan bagaimana reaksi para penyerobot di depan sana? Bergeming. Ya, mereka tidak peduli. Ada yang pake alasan "Saya tadi ngantri di sebelah es krimnya udah abis" ada yang pura-pura gak denger. Wah, kelakuan banget emang.
Akhir cerita? Gue dan Danang tidak berhasil mendapatkan es krim. Ah sudahlah. Beli juga bisa. Bonus gak dapet es krim, malah jadi dapet cerita kan?
Let us take some selfie
Selang beberapa saat, kami memutuskan mencoba ikut City Tour. Yes, program barunya Jakarta. Jadi sekarang di Jakarta ada bus tingkat looh. Sebenernya telat juga gue taunya karena temen gue, Pauji, sudah merasakan sensasi bus tersebut dua bulan yang lalu. Bahkan gue baru tau ada program ini dari Aa hari Jumat kemarin. Sebagai orang yang seneng jalan, antusias banget dong gue dengan rencana menjajal bus tingkat ala Jakarta.
Di depan City Tour Bus. Danangnya jadi fotografer kita :")

Menunggulah kami di halte HI. Ternyata sudah banyak yang menunggu di halte. "Wah, hebat juga nih. Dari yang gue baca di internet, bus gak bakal berhenti di sembarang tempat. Pasti tertib banget ya" ujar gue dalam hati.

Mpok Siti!
Perlu ditekankan, program City Tour ini digratiskan untuk tiga bulan pertama. Selanjutnya, akan dievaluasi terlebih dahulu bagaimana sebaiknya program dilanjutkan.
Setelah menunggu sekian abad, sampailah sebuah bus di halte tersebut. Massa mulai mendekat ke pinggir trotoar. Guide City Tour pun harus bersusah payah untuk menyuruh calon penumpang agar mundur supaya tidak terkena pintu bus ketika terbuka.
Apa yang terjadi setelah pintu dibuka? Yes, massa dorong-dorongan ke dalam bus. Sungguh, anarkis banget. Liar banget. Ada yang sampe jatoh, ada yang kejepit, yang sampe marah-marah, cucu yang nyariin neneknya, ada yang anaknya ketinggalan di bawah. Walaah...kacau juga ternyata. Hilang sudah ekspektasi gue tentang kenyamanan yang akan gue rasakan. Benar juga kata sebuah artikel yang menyatakan "Naiklah bus tingkat Jakarta, niscaya kalian melihat perilaku asli warga"
Bisa dibaca disini. Akhirnya gue, Kania, Nody, Danang, Bimbim, Adhita cuma bisa pasrah. Adzra, Aa, Surya sudah berhasil naik ke bus. Tapi akhirnya mereka turun lagi, demi kita. Aaaaaaaw :')
Setelah sholat, kita nyoba ngantri lagi trus kata Adzra "Yaudah kalo gak bisa, yaudah ya. Nothing to lose saja. Yang penting kita stick together." Bahkan, kita sudah menyiapkan rencana untuk role play dengan tujuan mengalihkan perhatian massa. Strategi sudah diatur. Kita akan mengalihkan perhatian dengan berbagai cara. Teriak-teriak kalo ada Raisa di halte, mau pura-pura jatoh, mau teriak "Anak sayaaaa" atau "Itu nenek saya masih di bawah! Minggir kalian" dan berbagai rencana gila lainnya. Ya akhirnya sih gak dipake role playnya. Udah pasrah aja kalo harus kebawa arus lagi -_-
Tidak berapa lama, datanglah kembali bus warna ungu-kuning (atau hijau?) dua tingkat itu. Massa mulai mendekat ke halte. Mbak guidenya kerja keras lagi nyuruh massa biar mundur. Pintu dibuka. Dorong-dorongan lagi. Gitu aja terus sampe kiamat. Alhamdulillahnya di second trial ini, kita semua berhasil naik ke bus!

Muka bahagia di dalam bus
Muka lebih bahagia di luar bus

Dengan tour guide kita. Namanya Abay :D
Dear ibu bapak mas mbak sekalian yang males ngantri, kalian harusnya konsekuen. Kalau kalian emang berniat mendapat es krim gratis dan acara dimulai dari jam 6.00, berangkatlah sepagi mungkin. Kalau perlu, kalian jagain venuenya sebelum penyelenggara dateng. Perhitungkan waktu kalian. Jangan menzholimi orang yang udah bersusah payah ngantri dan sudah berjuang memenangkan perang antara nafsu dan hati nurani.  Tidak selamanya kalian mendapatkan yang kalian inginkan, oke?
Buat kalian calon penumpang bus tingkat, siapin mental dan fisik yang kuat buat menghadapi liarnya calon penumpang yang lebih agresif dari kalian. Siapin strategi role play yang baik. Buat Dinas Pariwisata Jakarta, tolong dievaluasi lagi mengenai daya tampung bus dan perilaku calon penumpang. Coba disediakan garis antrian untuk halte bus dan diperkuat penjagaannya. Walaupun kemarin sudah ada penjagaan dari polisi dan guide, rasanya masih kurang untuk mengantisipasi membludaknya penumpang bus :)

Regards,

Saya yang lelah dengan kalian

Comments

  1. Dua bulan lalu gue naik, mas nya bilang, "bulan ini adalah bulan terakhir gratisan, akhir bulan bakal dievaluasi." Persis.

    Haha.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lah pegimane si masnya -_- bulan depan naik jangan jangan gitu lagi bilangnya haha

      Delete

Post a Comment