Panas Dingin Akibat Nilai


Jika suatu hari nanti ada yang mau membuat biografi tentang saya (Siapa yang berminat? Langsung email aja ya, haha) dan saya ditanya "Momen apa yang paling bikin panas dingin selama kuliah?" hal pertama yang saya jawab adalah ketika gebetan menyapa dari jauh dosen mulai mengunggah nilai akhir di SIAK NG. Siapa sih yang gak deg-degan? Karena di saat itulah, akhirnya kalian tahu penilaian dosen terhadap kerja keras selama satu semester ke belakang. Begadang buat belajar bareng, ngumpul kelompok ini dan itu demi tugas akhir, bolak-balik nyari jurnal, bikin presentasi bikin ini dan itu. Kuliah itu tidak seperti yang ada di FTV. Setidaknya bagi saya di semester ini. Ya tetep sih seneng-seneng, cuma ya beda aja dari semester sebelumnya.
Semester ini saya ngambil 21 SKS. Mulai dari semester 3 sih sebenarnya ngambil 21 terus. Jadi ya sudah jadi kebiasaan aja. Kenapa 21, Ay? Saya lebih senang menuh-menuhin jatah SKS di awal dibanding nanti saya sengsara di semester akhir. Rencananya, biar pas ngerjain skripsi udah kelar semua matkul dan bisa fokus. Doakan ya! 3 semester lagi loh :") Lagian, selagi bisa, kenapa tidak dimanfaatkan jatahnya? Kenapa gak 24 sekalian? Enggak deh, capek. Saya gak segitunya kok. Cuma ngerasa kalau 18 SKS kayaknya jadi agak gabut, kalau 24 kebanyakan (dan kadang emang gak memungkinkan) jadi ambil tengah deh, haha.
Namun, 21 SKS di semester ini terasa lebih berat. Senior saya dulu juga sudah memberi wejangan kalau semester 5 memang semester paling berat di antara semester yang sudah pernah mereka lewati. Cara menggambarkan semester 5 oleh orang-orang terdahulu saya beragam. Ada yang cukup "Pokoknya berat deh" ada juga yang berlebihan seperti "Berat deh, rasanya pengen nikah aja"
Nah, apakah di semester ini saya merasakan seperti yang digambarkan senior-senior saya? Ya, seperti tadi saya bilang, berat. Tapi rasa-rasanya, saya tidak sampai mengeluarkan pernyataan "Pengen nikah aja". Malah, saya jadi mikir lagi. Bagaimana saya kelak mengurus rumah tangga kalau tugas kuliah saja masih keteteran? Makanya kadang saya sebenernya suka sebal dengan teman-teman yang asal kalo bercanda, haha. Cuma ya gak bilang aja.
Oke, jadi tadi sore semua nilai akhir sudah diunggah. Keluarlah nilai-nilai, tidak lupa IP serta IPK. Sebenarnya dari kemarin juga sudah ada beberapa nilai yang diunggah, tapi karena hari ini sudah final semua mata kuliah telah terungkap nilainya, jadi feelnya agak beda. Well, tidak begitu baik kalau secara IP dan IPK. Sempet sedih. Namun kalau diteliti lagi per komponen, ada beberapa komponen nilai yang menurut saya cukup menakjubkan. Walaupun pada akhirnya tidak memberi dampak yang signifikan kepada nilai akhir saya. Tapi entah kenapa, tetap senang melihat nilai-nilainya. Ada nilai yang memang hasil perjuangan belajar hingga berdarah-darah sama teman sampai malam. Namun ada juga yang didapat dari usaha yang menurut saya sangat minimal. Karena ada beberapa kejadian saya belajarnya suka gak bener, he he. Gak usah dicontoh.
Biasanya sehabis keluar nilai-nilai, mulailah chat dari teman bermunculan menanyakan nilai masing-masing berapa. Saya pun terkadang tergoda menanyakan nilai teman saya. Tapi ada juga teman yang chat ke saya dan bercerita kalau ternyata dia tidak lulus suatu mata kuliah. Merupakan sebuah kejutan bagi saya karena teman saya ini tidak terlihat seperti orang-orang yang memiliki potensi mengulang di suatu mata kuliah. Jadi ya agak kaget. Setelah ngobrol panjang lebar, teman saya ini juga tidak menyalahkan siapa-siapa atas kegagalannya. Bahkan kondisi dia adalah, teman segengnya lulus semua, hanya dia yang tidak lulus. Kalau saya jadi dia, entah apa jadinya. Iyalah, udah seperjuangan, trus ditinggal sendirian gak lulus.
Percakapan panjang tersebut diakhiri dengan kata-kata yang menurut saya cukup menampar dari teman saya
"Doa-doa gue udah banyak yang terkabul, keinginan gue juga banyak yang kesampean. Kalo dibandingin sama gak lulus matkul masih lebih banyak yang enaknya kok."
Kemudian perkataan ini menjadi sangat relevan. Yes, masih banyak hal yang bisa disyukuri dibanding tidak mendapat IPK cum laude. Masih dikelilingi orang-orang baik yang selalu mengingatkan saya untuk terus berbuat kebaikan, masih punya sahabat yang mau dijadikan tong sampah saya kalau lagi pusing, masih ada dosen yang baik yang mau ngelulusin saya yang sepertinya sudah sangat kurang ajar menjadi seorang mahasiswa, dan yang terpenting masih bisa merasakan bangku kuliah tanpa halangan yang berarti. Rasanya sangat kurang ajar kalau sudah diberi kesenangan sebanyak itu namun masih meratapi satu kehilangan.
Semester 5, menurut saya merupakan semester paling berat. Benar. Kalau tidak kuat bisa babak belur dihajar habis-habisan di semester ini. Setidaknya menurut saya. Alhamdulillahnya, semester ini berhasil dilewati walaupun tidak lancar-lancar amat. Terlepas dari itu semua, sangat senang banyak pelajaran yang bisa diambil dari semester ini. Terimakasih kepada orang-orang yang sudah hadir di kehidupan saya selama 4 bulan ini! Yuk lah lanjut semester 6.

Comments