Tamasya Sendiri

Selama ini, biasanya saya kalau jalan-jalan pas liburan selalu ada teman yang menemani. Biasanya sih teman SMA karena sekalian jadi ajang temu kangen. Namun kali ini saya ingin mencoba sesuatu yang baru. Liburan kali ini jalan-jalan sendirian. Kenapa? Penasaran aja sih apa bedanya jalan sendiri dan sama teman #yha. Kemudian, emang lagi ingin melakukan hal-hal yang belum pernah dicoba sebelumnya. Salah satunya jalan-jalan (definisi jalan-jalan disini tuh yang berwisata gitu ya. Bukan yang sekedar nonton atau makan sendirian. Itu mah udah sering) sendirian. Apakah saya akan merasa mati gaya kalau sendirian? Atau justru malah menikmati? Garis besarnya, perjalanan kali ini bertujuan untuk membunuh rasa penasaran yang selama ini muncul.

Ide bertamasya sendirian sudah muncul dari akhir semester lalu kalau saya tidak lupa. Melihat instastories adik kelas saya yang sedang jalan-jalan di Museum Nasional, saya pun terpikir "Eh iya, udah lama ya gak ke Museum Nasional. Mau deh ke sana lagi." Kenapa Museum Nasional? Entahlah. Menurut saya, museum ini cukup menyenangkan untuk dikunjungi. Aksesnya juga mudah untuk bisa sampai ke sana. Yaudahlah, pokoknya gampang.

Selain ke Museum Nasional, dari dulu saya juga bercita-cita untuk mengunjungi Galeri Foto Antara yang ada di Pasar Baru (Iya, cetek ya cita-citanya). Karena dari hasil googling, bentuk luar bangunannya terkesan kuno tapi interiornya memang agak artistik. Ekspektasi saya ketika itu adalah galeri ini akan diisi banyak foto-foto jurnalistik yang dipotret oleh jurnalis foto kantor berita Antara. Karena penasaran, saya sering melontarkan ajakan ke galeri ini ke teman-teman saya. Namun karena minimnya informasi tentang galeri ini, sehingga saya ragu untuk merealisasikan jalan-jalan ke galeri tersebut. Takutnya malah tidak memuaskan pas dikunjungi. Bisa gagal karier saya sebagai event organizer yang teladan.


Biasanya kalau jalan sama teman, pasti akan ada satu orang yang dikorbankan sebagai "event organizer" dari acara jalan tersebut. Dari riwayat perjalanan saya, banyak hasil perjalanan yang dilakukan dengan teman saya merupakan hasil googling saya. Kemudian saya mencoba mempengaruhi teman saya supaya mengikuti kemauan saya untuk datang ke tempat tersebut (Dan alhamdulillah, sering berhasil). Negosiasi tetap ada dalam perencanaan perjalanan, kalau-kalau tempat yang ingin dikunjungi dirasa kurang feasible atau kenapa. Menjadi yang dikorbankan sebagai "event organizer" artinya harus bertanggungjawab juga atas destinasi yang dituju. Kalau tiba-tiba sampai di tempat tujuan ternyata tidak sesuai hasil riset Google gimana? Kalau tiba-tiba tempatnya sedang tidak bisa dikunjungi? Dan berbagai hal yang nantinya harus ditanggung si "event organizer" kalau-kalau acara jalannya gagal. Kadang juga harus agak merangkap sebagai tour leader. Inti kerjaan tour leader ya....mengkoordinir anggota kelompok supaya acara perjalanan lancar jaya sampai akhir.

Karena hari ini judulnya adalah tamasya sendirian, lepaslah tanggungjawab menjadi event organizer dan tour leader, haha. Senang sih. Gak perlu ngurusin orang, gak usah ribet bolak-balik ngechat memastikan anggota geng tidak telat bangun supaya berangkatnya tidak kesiangan (karena selama ini jalan-jalan banyak mengandalkan transportasi publik), dan banyak hal repot lainnya. Jadi kalau saya sendiri mau bangun siang untuk jalan-jalan, tidak ada juga yang akan memarahi saya. Egois sekali memang.

Saya tidak akan bercerita bagaimana perjalanan hari ini yang banyak diisi pertanyaan sejenis "Sendirian aja, mbak?" "Satu aja mesennya?" dari para petugas atau pelayan baik ketika saya ingin titip tas atau beli makan.


Setelah merasakan sendiri, jalan-jalan sendirian ternyata menyenangkan! Terlepas dari bebas tanggungjawab sebagai tour leader dan event organizer, akhirnya jadi bisa menikmati hal yang biasanya jarang bisa dinikmati sendirian. Pas di museum, misalnya. Saya merasa jadi bisa lebih punya waktu untuk baca-baca informasi tentang koleksi museum (yang pada akhirnya tidak saya baca seluruhnya karena terlalu banyak informasinya -_- saya pusing). Kalaupun tidak baca-baca, setidaknya jadi lebih bisa fokus untuk lihat-lihat koleksinya tanpa perlu mikirin apa-apa atau tiba-tiba ditarik teman karena menemukan koleksi-lain-yang-juga-menarik-namun-belum-ingin-atau-sempat-dilihat-karena-masih-mengagumi-koleksi-lain. Intinya, bisa lebih menikmati hal-hal yang biasanya terlewatkan karena harus berinteraksi dengan orang lain.

Selain itu, tidak perlu menanggung malu karena gagal jadi tour leader yang baik. Ini saya rasakan pas di Galeri Antara. Karena sedang tidak ada pameran, jadi isi galerinya ya minim saja. Interiornya memang artistik tapi tidak banyak yang bisa dilihat. Seketika pikiran saya melayang kalau saya jalan ke galeri bersama teman-teman saya kemudian mati gaya karena kayaknya tadi juga saya cuma 15 menit di galeri saking bingungnya mau ngapain lagi (Kayaknya tadi saya adalah satu-satunya pengunjung yang menikmati galeri. Ada sih pengunjung lain tapi sepertinya orang Antara yang berkantor disitu). Tapi karena sendirian, jadi yasudah, tidak ada beban untuk menenangkan anggota kelompok kalau ternyata galerinya tidak sesuai ekspektasi. Akhirnya saya nikmati saja kunjungan kilat untuk mencoret cita-cita cetek saya, mengunjungi Galeri Antara.

Dari perjalanan ini saya jadi sadar. Rasa-rasanya sudah lama saya tidak merasakan kesendirian yang menyenangkan. Di antara kesibukan kuliah dan organisasi (aduh, bohongnya suka berlebihan), saya selalu dikelilingi banyak orang. Kalaupun sampai rumah, biasanya sudah lelah dan akhirnya lanjut tidur aja. Jarang-jarang nemu waktu sendirian untuk bisa dinikmati. Sebagai seorang introvert yang cepat habis tenaganya kalau terlalu lama berkumpul dengan banyak orang, momen sendirian merupakan sebuah kemewahan di antara ramainya drama kehidupan. Senang rasanya tadi bisa menikmati kesendirian di lorong-lorong museum. Duduk-duduk tanpa memikirkan waktu sudah berapa lama berada di museum dan tidak perlu khawatir untuk agenda berikutnya. Ohiya! Bisa melihat langit sore Jakarta dari pelataran Istiqlal tanpa ada yang mengajak ngobrol. Ditambah anginnya yang menyenangkan serta cuaca yang bersahabat. Hingga akhirnya tenggelam dalam pikiran sendiri (karena pusing tiba-tiba dapat kabar dari seseorang yang berkaitan dengan masa depan #eh #hm #mulaimisterius).

Saya cukup setuju dengan perkataan Charles Bukowski, “Being alone never felt right. Sometimes it felt good, but it never felt right.”. Bukan berarti setelah saya merasakan kesenangan tamasya sendirian, saya sekarang beralih ke golongan solo traveler. Tidak juga. Tapi memang nampaknya sekali-kali, agenda tamasya sendirian perlu dilakukan untuk memaknai kesendirian. Karena pada akhirnya, hanya kepada diri sendirilah kita bisa bergantung bukan?



Salam solitude is a bliss!

Comments