Perkara Mengeluh

Mengeluh itu seperti makan makanan cepat saji, enak tapi tidak sehat.

Suatu hari, saya berbincang dengan teman saya. Mengeluh lebih tepatnya dengan segala hal yang sedang dijalani. Capek ini dan itu. Padahal sebenarnya saya yakin, teman saya juga punya tanggungan yang sama, bahkan lebih berat dari saya.

Hingga terciptalah dialog ini
"Jangan mager, Ay."
"Kenapa gue gakbole mager?"
"Kan sekjen"
"Gak adil, masa sekjen gabole mager"
"Kalo lu mager, tim lu gak jalan. You have to be as strong as iron."

Dor! Tumben sekali teman saya memberi kata-kata semacam ini.

Saya yakin, teman saya yang menanggung amanah lebih berat dari saya, masalahnya ya lebih besar dari saya. Lebih pusing. Lebih rentan mengeluh.Tapi mereka terlihat baik-baik saja. Entah mungkin mereka tidak suka mengeluh seperti saya atau bagaimana.
Lagian, ada penelitian juga yang bilang kalau mengeluh tentang pekerjaan akan berdampak buruk pada kesehatan. Kemudian langsung terbayang nanti hari tua saya sakit-sakitan karena terlalu banyak mengeluh di masa muda. Pernah baca juga kan penelitian tentang kristal air yang mudah dibentuk? Karena tubuh manusia mengandung cukup banyak komponen air, maka, apa yang diucapkan oleh diri kita kelak akan berdampak kepada tubuh kita. Ya kalau ngeluh terus, banyak gak terima sama keadaan, ke depannya ya akan terasa keluhan-keluhannya. Bakal beneran berasa lelah. Bakal lari ke pikiran dan nantinya berdampak langsung ke fisik.

Pada akhirnya, memang itulah yang harus saya jalani sekarang. Kuat.

Karena saya cuma punya satu pilihan, menjadi kuat.

Comments