(Before) Vietnam Short Getaway

Halo semua!
Sebenernya ini udah super duper telat kalau mau cerita karena sudah sebulan yang lalu saya pergi. Pergi kemana? Ya makanya ini mau diceritain, haha.

Karena saya sudah semester 6 dan mengambil peminatan Pemasaran, ada satu mata kuliah yang menjadi highlight semester ini. Apa mata kuliahnya? Pemasaran Internasional *sfx : woooow*
Kalau kalian pernah baca buku 30 Paspor di Kelas Profesor, nah itu lah yang saya jalani sebulan yang lalu. Belum tau itu buku apa? Coba googling ya.
Yes, saya harus pergi ke suatu negara, sendirian, yaudah pergi aja. Kalau kelas saya, ada proyeknya. Namanya Happiness Project. Inti dari proyek ini adalah menebarkan kebahagiaan di negeri orang. Karena menurut Pak Rhenald Kasali, dosen saya (iya, dosen saya. Padahal dari dulu cuma melihat beliau di televisi atau koran, sekarang bisa depan mata bahkan berinteraksi secara langsung) pada hakikatnya kita adalah duta kebaikan. Lupa sih tepatnya gimana beliau bilangnya, intinya begitu lah.

Oke, dengan kewajiban semua mahasiswa di kelas tersebut untuk mengunjungi satu negara, maka harus dipersiapkan dong dari jauh-jauh hari kemana ingin pergi dan berkas-berkas yang diperlukan. Peraturan di kelas saya adalah : Satu negara, satu orang. Kecuali negara yang teritorinya luas seperti Amerika Serikat, China, Rusia dan Australia, diperbolehkan dua orang satu negara. Itupun kotanya harus berbeda dan waktu berangkatnya berbeda.

Disclaimer untuk postingan ini : Saya gak akan banyak review ke mana saya pergi, tapi bakal banyak bahas persiapan dan pengalaman unik apa yang saya dapat di sana. Kalau masalah tempat tujuan dan budget dll, bisa Google kok.

Jadi saya sudah mulai menentukan negara tujuan sejak...........lama. Lupa tepatnya kapan. Tadinya mau ke Thailand tapi gak disetujuin sama kakak soalnya kan budgetnya dari kakak saya. Karena waktu itu juga Thailand lagi agak gak bagus situasinya. Trus disaranin Vietnam aja dan ke Ho Chi Minh City. Namun sesungguhnya, selama diskusi negara tersebut, sempat terlontar kalimat-kalimat yang bikin saya ingin mengubah tujuan perjalanan seperti "Eh, tapi kemarin temen aku dapet tiket London-Jakarta PP 10 juta aja loh" "Kalau ke Paris gimana ya?" Nih ya, bayangin, saya aja tadinya udah senang banget sekedar tahu bakal dibiayain perjalanannya ke negara semacam Vietnam. Namun kalau muncul kalimat-kalimat seperti itu kan pada akhirnya jadi muncul juga di benak saya "Apa jangan-jangan boleh ke Eropa ya?" Hahahaha. Tapi karena time constraint dan budget juga, jadi yasudah Vietnam udah oke banget.

Setelah melakukan riset, saya jatuh cinta sama Vietnam. Sebenarnya, gak ada alasan yang jelas juga kenapa saya ingin ke Vietnam. Dikasih tugas pergi ke luar negeri sendirian aja saya udah excited banget. Emang dasar senengnya jalan-jalan, suka gak mikir aja gitu baiknya kemana. Yang penting tidak di Indonesia untuk beberapa saat juga, saya udah senang sekali. Tapi tujuan saya beralih, dari Ho Chi Minh City menjadi Hanoi. Sebagai gadis ibukota yang mendambakan keteduhan, saya pilih Hanoi. Ho Chi Minh City, kalau kata review, berisik, rame, ya kayak Jakarta. Dan lebih metropolitan. Sedangkan Hanoi cenderung lebih kalem. Dan Hanoi juga dekat dengan berbagai wisata alam Vietnam seperti Ha Long Bay dan Tam Coc-Hoa Lu. Daerah utara Vietnam emang lebih banyak yang bisa dikunjungi dibanding selatannya Vietnam. Yaudah, fix bangetlah Hanoi.

Persiapan utama yang perlu diurus adalah paspor. Seumur-umur, saya belum punya paspor. Jadi setelah fix negara tujuan, lihat-lihat review di internet dan segalanya, akhirnya saya pergi membuat paspor. Isi berkas online dulu, datang ke kantor imigrasi, interview sebentar (which is disambut dengan tanggapan "Hah tugas apaan ke luar negeri?" ketika saya jawab tujuan ke Vietnamnya oleh mas petugas imigrasi), nunggu seminggu, jadi deh paspornya, yey!

Tiket pesawat dan booking penginapan baru dilakukan h-sebulan berangkat. Emang peraturannya begitu kalau tahun saya, biar fair. Untuk penginapan, saya pakai Airbnb karena memang diharuskan tinggal bersama orang lokal. Saya sangat terkesima dengan harga apartemen tempat saya menginap yang murah aja gitu. Sampai gak percaya. Padahal saya tinggal di daerah yang sentral, fasilitasnya baik, everything is in walkable distance, untuk 4 hari saya cuma keluar IDR920.000!
Yang lawak adalah pas booking tiket pesawat. Saya nyari maskapai yang murah dan tidak menggunakan biaya bagasi. Ketemulah maskapai Malindo Air, masih satu grup sama L**n Air tapi ini sepertinya lebih baik dibanding teman segrupnya. Baca-baca review, oke juga ini maskapai. Dan ternyata nemu juga yang melayani Jakarta-Hanoi dengan maskapai tersebut (gratis bagasi 30 kg, makanannya gak pelit, siapa yang tidak tertarik?) akhirnya saya beli tiketnya. Setelah dicek, baru sadar, kenapa bisa sampai seharian ya perjalanannya?

Gak taunya.....



Saya harus transit 17 jam di Kuala Lumpur. Jeder!


Tapi tiketnya terlanjur dibeli. Trus baru mikir "Ngapain aja ya 17 jam di bandara nanti........." tapi seinget saya dan setelah baca-baca, bandara Kuala Lumpur (yang main terminal) merupakan tempat yang asik untuk tidur. Dan benar saja, pas saya sampai di KLIA, sudah banyak orang bergeletakan di terminal. Tidur aja di kursi tunggu. Dipikir-pikir, berani juga saya tidur di bandara bersama barang bawaan (koper sih udah direct transfer, jadi amanlah). Dan hebatnya, saya bisa juga tidur di tempat umum! Karena selama ini saya merasa saya paling gak bisa tidur di tempat lain selain kasur sendiri.

Tempat tidur saya selama kurang lebih 8 jam di KL
Contoh orang tidur di bandara


Btw, wifi KLIA asik banget. Makanya tidak terasa 17 jamnya. Saya juga gak banyak keliling di KLIA karena sampai KL udah sore dan sibuk nyari colokan buat charge HP, haha. Dan sisa waktunya digunakan untuk berusaha mendapatkan tidur pulas di bandara. Habis juga 17 jam, hingga akhirnya berangkat lagi ke Hanoi.

Kembali ke persiapan perjalanan, saya riset dulu makanan apa yang mungkin bisa saya coba. Karena prinsip saya, selagi di luar negeri, sekalianlah coba makanan khasnya tapi ya tetap hati-hati. Yang mengandung babi, fix coret. Tapi masih tidak bisa memastikan juga kan apakah alat masak yang digunakan tidak pernah bersentuhan dengan daging babi dan semacamnya. Sempat berkonsultasi dulu dengan teman, dan emang jawabannya gak boleh. Tapi.............masih penasaran sama makanan Vietnam. Yasudah, setidaknya sudah diminimalisir dengan mencari makanan yang direviewnya tidak ada daging babi. Sisanya, wallahu alam :"
 Kemudian juga menyusun mau pergi kemana selama di Hanoi dan sekitarnya. Saya memilih beberapa museum dan pergi ke provinsi Ninh Binh yang berjarak dua jam saja dari Hanoi untuk pergi ke Tam Coc dan Hoa Lu. Seperti yang saya bilang, daerah utara Vietnam lebih kaya akan destinasi alam. Ada Sa Pa, that legendary Ha Long Bay (tadinya mau kesini, namun karena satu dan lain hal, batal. Akhirnya memilih ke Hoa Lu dan Tam Coc) dan banyak lagi.

Hingga akhirnya tiba di hari keberangkatan, 7 Maret. Karena saya kecepetan 3-4 jam buat check in (ya daripada telat?) saya muter-muter bandara dulu dengan shuttle bus yang tersedia. Saya lagi chat sama teman saya dan cerita kalau saya kecepetan dateng ke bandara. Kata teman saya "Ke terminal 3 aja, Ay. Pake shuttle bus" Aha! Cemerlang juga teman saya. Akhirnya saya nyari shuttle bus yang dimaksud untuk pergi ke Terminal 3 Ultimate. Sesampainya.......................bagus banget :" beda sama terminal keberangkatan saya di 2D, ahahaha. Di terminal 3, saya chat beberapa teman saya buat pamitan kemudian saya lanjutkan mengembara di terminal 3 hingga sudah dirasa cukup dan kembali ke terminal 2.

Masalah muncul ketika sudah masuk ke imigrasi. Di bagian imigrasi, si masnya agak skeptis dengan saya. Standar sih ditanyanya "Mau ngapain ke Vietnam dan berapa lama?" tapi pas saya jawab "Mau liburan sekalian ngerjain tugas" raut mukanya berubah "Sendirian aja? Apa yang di belakang itu rombongan kamu? Gurunya mana?" Lah dikira mau study tour -_- ahahaha.  Hingga keluar kalimat "Emang udah 17 tahun?" seketika saya mau ketawa. Tapi takutnya nanti kalau ketawa malah dikira gak serius. Yaudah saya tunjukkin aja KTP saya biar si mas percaya. Setelah berbisik-bisik dengan temannya, akhirnya saya diizinkan melewati gerbang imigrasi. Rasanya ingin sujud syukur :"

Sampai di ruang boarding, taunya pesawatnya delay.

Aslinya bisa take off jam 13.15, tapi baru bener-bener berangkat 14.30. Sampai di KLnya masih 16.30 sih, jadi yasudah tidak apa-apa. Selama 4 kali naik pesawat (saya tidak berganti maskapai), yang agak lama berangkatnya cuma ini sih. Jadi fine aja.

Lanjut di post berikutnya ya!

Comments