In The Search for Happiness



Long weekend kali ini ingin mendedikasikan sedikit waktu untuk rehat sejenak dengan melakukan hal-hal yang sudah lama tidak dilakukan, contohnya menonton film. Dari dulu bertumpuk-tumpuk film sudah tersusun rapih di laptop, menunggu untuk ditonton namun apa daya, waktu tidak mengizinkan. Hingga akhirnya hari ini, kesampaian juga nonton film yang dari dulu ingin ditonton.


https://3.bp.blogspot.com/-eUkmUr3mT9E/VrdW8WJFAEI/AAAAAAAAGhY/BnYvbeAGZZA/s1600/hector_and_the_search_for_happiness_ver3.jpg

Hector and the Search for Happiness

Pertama tau film ini dari............mana ya lupa, haha. Tapi pas tau judulnya, sempat berpikir "pasti karakter utamanya lagi depresi"dan benar! (ketebak banget gak sih?) 
Alkisah, hiduplah seorang psikiatris dengan kehidupan yang menurut saya sudah berkecukupan bernama Hector. Hector punya pacar cantik, pekerjaan yang settle, living its a life in a very very neat and tidy world. Sempurna. Namun dibalik keteraturan yang ia cintai, Hector merasa hampa. Ia merasa masih kurang mengerti apa itu kebahagiaan dan apa yang bisa menimbulkan kebahagiaan. Singkatnya, Hector akhirnya melakukan perjalanan ke tiga daratan berbeda untuk mengerti apa itu kebahagiaan. Dimulai dari Asia kemudian ke Afrika dan diakhiri di Amerika hingga kembali lagi ke rumahnya, di Eropa. Sebenarnya, selain mencari arti kebahagiaan, Hector punya misi lain. Menyelesaikan apa yang belum diselesaikan. Apa yang belum diselesaikan? Nonton aja.

Di perjalanan, Hector selalu mencatat insights yang dia dapat di jurnal pemberian pacarnya sebelum berangkat mengembara. Ini yang bisa saya temukan di Google, hasil rangkumannya.

                                          
https://s-media-cache-ak0.pinimg.com/736x/08/97/e2/0897e2531d89ff1220acbb701fd9dc61.jpg 

Eh, sebenarnya saya sempat bingung juga si Hector ini berkeliling dunia ingin mencari kebahagiaan atau hanya riset tentang apa yang bisa membuat orang bahagia. Tapi setelah dipikir-pikir, keduanya berjalan beriringan. Sambil dia riset, akhirnya dia dapat banyak hal juga tentang kebahagiaan. Jadi sebenarnya, Hector menurut saya tidak sefrustasi itu untuk bisa bahagia. Hanya sedikit kesulitan saja. 

Kebahagiaan itu perlu dicari atau diciptakan, Ay? Hmm.  Kalau menurut saya (dan sejalan dengan kondisi saya sekarang), jawabannya adalah bisa dicari dan perlu diciptakan. Bahagia itu sesungguhnya berawal dari pikiran yang merasa cukup atas segala yang dimiliki saat ini. Bisa bercerita dengan teman kalau sedang dirundung gelisah dan bisa mendengarkan cerita teman juga yang sedang pusing, menurut saya adalah bentuk kebahagiaan. Ingat, listening is loving, nasehat nomer 13 di jurnal Hector. Tidak perlu jauh berarti kan untuk mencari kebahagiaan? 

Lalu kalau sampai tidak menemukan juga? Ya diciptakan. Nasehat lain yang di dapat di film ini adalah setiap orang berkewajiban untuk bahagia. Nah. Beres. Wajib loh. Bukan hanya sebagai hak. Karena kata si biksu yang ketemu di Nepal ke Hector ketika Hector bilang "Setiap orang punya hak untuk bahagia" dibalas si biksu dengan bilang "Higher than that, Hector!". Kewajiban di atasnya hak, bukan? Kalau tidak dapat, ya ciptakan sendiri. Karena kata pepatah "Sometimes, you don't have to wait for the rain to stop to continue your journey. Pass across it" ya sebenernya gak mirip-mirip banget kutipannya. Itu hasil saya berkontemplasi selama satu minggu, haha. 

Anyway, untuk orang-orang yang butuh nasehat hidup tentang kebahagiaan, film ini saya rekomendasikan. Dan film ini kembali membangkitkan cita-cita saya untuk bisa solo travelling (lagi) setelah bulan lalu saya berhasil bertahan di Vietnam sendirian selama 5 hari untuk mengerjakan tugas mata kuliah. Itu cerita lain tapi :D nanti diceritakan

Comments