Ironi Sinar Mentari

Minggu pagi yang cerah setelah beres-beres kamar dan nyuci dan menjemur dan sarapan, saya pergi ke halaman untuk mengambil koran karena Ayah nanya "koran hari ini dimana?"

Sesampainya di halaman, jam 9 pagi saya mengambil koran. Entah kenapa, saat itu saya merasa sinar matahari lagi indah-indahnya menyengat kulit. Tidak terlalu terik dan panas. Udaranya juga tidak banyak mengandung debu dan asap kendaraan. Pas banget. Sehingga, sisi norak saya pun muncul. Saya berdiri agak lama dan kemudian berputar-putar sejenak di bawah sinar mentari. Supaya sinar mentarinya bisa dirasakan badan. Nikmat banget.

Baru deh berasa banget kalau akhir-akhir ini super duper sibuk sampai jarang tersentuh sinar mentari. Berangkat selalu pagi dan terburu-buru. Sarapan kilat, mandi, ngurusin obat Ayah, pesen ojek dan menghabiskan 20-30 menit di perjalanan untuk tiba ke kampus. Sampai ke kampus, langsung ke kelas. Gak sempetlah menikmati sinar mentari. Kalaupun di ojek juga tidak bisa dinikmati. Hanya menjadi sebuah keharusan untuk bertemu sinar mentari dan polusi. Bukan suatu hal yang bisa dirasakan berlama-lama. Tidak ada nikmat-nikmatnya deh.

Di kampus biasanya saya berdiam di sekre atau perpus. Kalau lapar ya pergi ke kantin. Kalau mau menikmati sinar mentari, rasanya sudah terlalu panas karena biasanya baru kosong jadwalnya tengah hari. Jadi enggan pada akhirnya untuk duduk-duduk di taman fakultas. Sore hari juga sudah tidak terlalu terasa sinar mentarinya. Hanya ditemani semilir angin. Kemudian pulang baru malam hari, langsung rebahan di kamar dan kemudian beres-beres.

Susah deh ketemu sinar mentari.
Makanya, sekalinya ketemu jadi norak.

Walaupun dari dulu saya memang suka sama hujan, akhir-akhir ini saya jadi senang dengan sinar matahari dan langit biru. Well, who doesn't?

Pada akhirnya terlintas sebuah kutipan yang rasanya sudah sangat sering diulang-ulang.
  
Kita baru bisa merasakan sesuatu sebagai nikmat kalau sudah pernah merasakan kehilangan

Benar kan? 

Comments