Jangan, Berasumsi dan Berekspektasi

Sebagai seseorang yang berkuliah di fakultas ekonomi (dan bisnis, sesungguhnya lebih tepat disebut anak bisnis sih ya), kata asumsi selalu mengambang di udara. Melewati celah dinding, ditulis di papan tulis, mengudara di selasar.

Menurut KBBI, asumsi adalah 1 dugaan yang diterima sebagai dasar; 2 landasan berpikir karena dianggap benar;

Dan, menurut Oxford Dictionary, Assumption is a thing that is accepted as true or as certain to happen, without proof. 

A thing that is accepted as true, without proof. 

Berasumsi memang mudah, cepat, sederhana. Makanya banyak orang senang berasumsi. Berasumsi bahwa teman kita akan sukarela maju untuk mempresentasikan tugasnya, berasumsi dosen tidak akan memberikan tugas tambahan, berasumsi bahwa si gebetan lagi melakukan manuver-manuver untuk mendekati kita #eh #loh

Karena kesederhanaan asumsi, pada akhirnya kita betah berasumsi hingga merasa nyaman dengan asumsi yang sudah kita ciptakan tanpa ingin mengecek kembali realita yang ada. Terlalu takut ilusi yang tercipta akibat asumsi hancur seketika. Sayangnya, dengan membiarkan nyaman yang tercipta dari asumsi, ketika realita membentur, kita tidak siap menghadapinya. Ternyata teman tidak bisa mempresentasikan tugasnya hingga akhirnya kita yang harus menggantikan giliran presentasi teman terlebih dahulu, dosen memberi tugas tambahan, dan ternyata gebetan tidak hanya melakukan hal baik kepada saya, namun kepada semua wanita yang ia kenal #eeeeh 

Dari asumsi, tumbuhlah ekspektasi. Menurut Oxford Dictionary, Expectation is a strong belief that something will happen or be the case.

A strong belief, hm. 

Setelah kita berasumsi bahwa teman kita akan maju mempresentasikan tugasnya, dosen tidak akan memberikan tugas tambahan, dan gebetan sedang melakukan manuver tertentu, pada akhirnya timbul sebuah ekspektasi. Kita berekspektasi presentasi teman kita akan sangat keren karena biasanya dia selalu jadi presenter terbaik, dosen akan seterusnya tidak memberi tugas dan melihat berbagai manuver yang dilancarkan, kita mengekspektasikan gebetan akan menjadi lebih dari sekedar gebetan. 

Namun sekali lagi, kita terperangkap dalam ekspektasi kita, tanpa pernah mengecek ekspektasi pihak lain. Sehingga sekali lagi, ketika realita menyerang, ketika bukan hal yang kita ekspektasikan yang terjadi, kita belum siap. 

Wajar memang jika seorang manusia berasumsi dan berekspektasi. We love things that comfort us. Assumptions and expectations is our way to describe comfort. Namun perlu disadari, kedua hal tersebut jika tidak dikelola dengan baik, does kill yourself slowly. It leaves you torn apart but in some irritating way because the process goes slowly. Slowly, but still painful. 

My advice? Set your expectation low, don't assume. Besides, setting your expectation lower may surprise you when you get more than you expect. And when you're lowering your expectation, when the reality fails to deliver the result you've prayed for, it hurt less. So does assumptions.

Comments

  1. Asumsiku adalah si mantan dah bahagia sama gebetan barunya. :(( *anyway makin asik aja tulisannya!

    ReplyDelete
    Replies
    1. dicek dulu coba beneran sudah bahagia atau belum. kalo belum, bisalah disikat lagi (???) yahay, terimakasih looh!

      Delete

Post a Comment