Vietnam Short Getaway part 1 - Quick Guide to Hanoi


Semacam mandatory post pengelana yang sedang bepergian dengan pesawat

Selasa, 8 Maret 2017. Merupakan hari yang bersejarah buat saya.
Karena ternyata, saya bisa sampai di suatu negara. Sendirian.
Bisa sampai di negara tujuan Pemasaran Internasional (Pemintal) aja menurut saya sudah sebuah pencapaian, setelah dipikir-pikir (selama di perjalanan, sebenernya saya tidak banyak berpikir ini dan itu. Baru pas pulang kepikiran banyak hal. Aneh memang)

Selasa waktu setempat (which is sama kayak waktu Jakarta), saya tiba di Noi Bai International Airport. Wow!

Sampai di bandara, ngantri imigrasi dulu. Di sinilah saya bertemu orang asing pertama kalinya dan bisa diajak ngobrol. Seorang bapak agak tua, sekitar 40-50tahun, agak Arab-India gitu mukanya, tinggi, tapi terlihat humble. Si bapak nanya saya asalnya dari mana (oh tentunya pakai Bahasa Inggris, tapi percakapan di posting ini bakal banyak yang dijelaskan dengan Bahasa Indonesia saja). Trus saya bilang kalau saya dari Indonesia. Dan ternyata sebelum ke Hanoi, bapak yang bernama Dalgit dan ternyata berasal dari Malaysia dan berprofesi sebagai pengacara ini, sempat ke Indonesia. Buat apa? Main golf :)) keliatan sih emang tipikal businessman gitu. Yaudah, kita ngobrol panjang lebar. Si bapak memuji saya karena saya sangat berani untuk pergi ke Vietnam sendirian "Wow, you're very adventurous" "Wow, your English is so good. You must came from a good family" ah bisa aja si bapak. Ohiya, padahal belum ada 5 menit ngobrol, Mr. Dalgit sudah menawarkan untuk bertukar nomer HP. Awalnya bingung juga mau ngasih nomer mana karena nantinya di Hanoi juga kan saya pakai nomer Vietnam. Yasuda, saya kasih aja nomer Indonesia saya. Hotelnya Mr. Dalgit tidak jauh dari tempat saya tinggal. Bahkan dia ngajak saya buat makan siang bareng kapan-kapan. Wow. Gak nyangka ada orang sebaik Mr. Dalgit. Tapi karena saya masih waspada, saya cuma bilang makasih aja sambil memberikan senyum termanis saya.

Kemudian dia pamit duluan karena antrian imigrasi dia lebih dulu daripada saya.

Yah, lupa foto. Padahal tugasnya kan ketemu orang asing dan foto.

Tapi akhirnya kita ketemu lagi di baggage claim. Pas ketemu "There you are again!" haha lawak banget.

Eh lupa lagi foto.

Sejujurnya, saya emang kurang hobi foto sama orang apalagi baru kenal gitu, haha.

Selesai dari baggage claim, saya turun dan mencari money changer. Dan ternyata ada satu konter yang melayani penukaran uang, pembelian sim card dan pesan taksi serta hotel. Wiiih. Setelah tuker uang, beli sim card (yang saya sangat yakin, saya tidak ditarik uang apapun. Bingung juga. Uang saya utuh, persis seperti sehabis ditukar. Padahal harga sim card mencapai 200.000 VND. Lumayan buat seminggu, udah dapet paket data 1,5GB dan gratis nelfon beberapa menit, lokal maupun internasional.) dan pesan taksi, akhirnya saya keluar menuju taksi.

Seketika hawa dingin menyelimuti. Mendung-mendung seperti Depok dan pas ngecek, suhunya sekitar 16 derajat celcius. Berasa di Puncak. Setelah beberapa hari di Hanoi, ketika saya melihat instastories teman saya yang di Vietnam namun dia pergi ke Ho Chi Minh, suhu di sana berkisar antara 28-30 derajat celcius. Matahari selalu bersinar cerah, sedangkan saya selalu pakai jaket kalau keluar rumah. FYI, iklim di utara dan selatan Vietnam memang berbeda. Kata tour guide saya waktu ke Tam Coc dan Hoa Lu, Hanoi memiliki 4 musim dan ketika saya berkunjung (awal Maret) memang sedang musim semi. Musim semi di Hanoi ya isinya hujan-hujan mendung berkabut gitu. Sedangkan Ho Chi Minh yang terletak di selatan, hanya memiliki dua musim seperti di Indonesia. Panas dan panas banget, haha. Salah. Panas dan hujan. Dengar-dengar, musim panas di Vietnam bias mencapai 35 derajat celcius dengan kelembaban sangat tinggi.

Oh ya, kota Hanoi sendiri seperti yang sudah sempat dijelaskan, lebih kalem dan adem. Jalanannya banyak motor (teteup) tapi helm disini gak ada yang full face. Cuma sekedarnya aja, buat nutupin kepala. Helm jaman dulu gitu. Tapi ketika anda naik Grab (which is agak riweuh, karena tidak semua drivernya bisa Bahasa Inggris. Beberapa kali saya beruntung bisa dapat yang lumayan bisa Bahasa Inggris), handphone yang dipakai abang drivernya cukup mengagetkan. iPhone 6 cuy, haha.


Contoh jalan di Hanoi

Trotoar di Hanoi lebar. Jadi hobi banget jalan kaki di sini. Ada beberapa sih yang berantakan seperti depan rumah saya (cieh, rumah) tapi kalau untuk yang agak dekat tempat wisata, enggak kok. Lebar dan tidak ada yang jualan macem-macem. Ditambah hawa yang sejuk, enak banget buat jalan berpuluh-puluh ribu langkah disini.

Karena gaya bepergian saya semi backpacker (karena masih bawa koper namun budget pun terbilang minimal, serba tanggung memang), untuk transportasi saya senang naik bus disini. Bayangin, bus disini cuma 7000 VND, which is sekitar IDR 4000 sajah! Kemanapun! Yaampun. Cinta banget sama kota ini. Kalau naik Grab atau Uber, bisa empat kali lipatnya. Selama segala tujuan masih bisa dijangkau dengan jalan kaki dan transportasi umum, hajar ajalah. Kalaupun bingung harus naik apa dan turun di mana, Google Maps disini sudah punya jadwal bus dan halte mana yang harus disinggahi (walaupun jadwalnya tidak tepat-tepat banget, tapi setidaknya jelas harus naik dan turun di halte mana) Asik banget. Kemungkinan nyasar kecil, walaupun sempat saya sekali kelewatan bus stop karena lagi gak terlalu merhatiin jalan, haha. Mungkin yang agak ribet adalah navigasi buat jalan kaki. Karena jalan di Hanoi tuh kecil, banyak cabangnya, kalau gak terlalu merhatiin bisa salah belok dan nembusnya ke Cina! Maaf ya berlebihan. Salah-salah belok udah jadi makanan sehari-hari saya kalau lagi keliling kota jalan kaki. Makanya, insting yang tajam sangat diperlukan ketika bertamasya sendirian di sini. Kalau feeling udah gak enak, coba cek lagi petanya. Bener gak beloknya. Gakpapa kalau salah jalan dikit, itung-itung khilaf.

Comments