Vietnam Short Getaway part 2 - Making Friends with Strangers

Sedari kecil, kita diajarkan orangtua kita untuk tidak sembarangan menerima ajakan orang asing. Entah dikasih permen, diajak pergi atau apapun itu. Pokoknya, it's a big no.
Namun semakin kita dewasa, sedikit demi sedikit kita akan menerima ajakan-ajakan dari orang asing. Lama kelamaan, kita mulai percaya dengan orang asing hingga akhirnya kita menjadikan mereka teman, bahkan orang kepercayaan kita di luar keluarga kita.

Bepergian sendirian, membuka kesempatan yang sangat besar untuk bertemu dengan orang asing dan berkenalan dengan mereka. Entah kelak menjadi teman atau tidak, yang jelas pada akhirnya kita akan berinteraksi dengan orang asing.

Hanoi, menurut hostfam saya, Dzung, karakteristik orangnya cenderung lebih dingin dibanding Ho Chi Minh City (HCMC). Sepertinya ini dapat menjelaskan mengapa ketika saya mencoba senyum atau memasang muka baik di depan orang Vietnam, suka gak ditanggepin. Language barrier juga yang menjadikan saya susah bercakap-cakap dengan orang sekitar karena memang tidak terlalu banyak yang bisa berbahasa Inggris dengan baik di Hanoi. Ada sih beberapa yang saya temukan, itupun kalau ngobrol ujungnya pake Google Translate, haha. Jadi saya gak terlalu kenal banyak orang Vietnam di Hanoi.

Tapi, ada juga yang bisa saya ajak kenalan seperti mbak-mbak yang saya temui di panti asuhan yang saya kunjungi. Walaupun ends up ngobrolnya banyakan pake Google Translate, haha. Tapi kita bisa bertukar Facebook dan nomer HP! Entah kenapa mudah sekali orang Vietnam memberikan FB dan nomer HPnya. Selain itu, saya juga berkenalan dengan penduduk local ketika saya lagi duduk-duduk di pinggir danau Hoan Kiem dekat rumah. Tadinya saya habis beli es krim di Trang Tien Ice Cream dan mau lanjut makan siang (haha, kebalik yah malah makan es krim dulu -_-) tapi karena belum tau mau kemana, saya pergi ke Hoan Kiem sebentar mau nyari tempat duduk karena lelah berjalan-jalan hari itu. Gak lama saya duduk, ada ibu-ibu bangku sebelah nanya saya sesuatu pake Bahasa Vietnam. Saya yang budeg cuma bisa jawab "Sorry?" trus akhirnya diulang lagi pertanyaannya pake Bahasa Inggris. Ah, senangnya ketemu orang bisa Bahasa Inggris. Walaupun gak lancar-lancar amat. Si ibu ditemani dengan dua temannya dan anak laki-lakinya (sepertinya) yang kayaknya umurnya gak jauh beda sama saya. Akhirnya, kita jadi ngobrol banyak. Dari kenapa saya ada di Hanoi, sama siapa, berapa lama disini, sampai pertanyaan "Udah nikah apa belom?" #yha. Dan yang paling seru adalah ketika si ibu (duh, maaf banget gak kenalan nama waktu itu) yang lagi pake scarf, tibatiba melilitkan scarfnya ke kepala dan kata si anak laki-lakinya "She wants to be like you" waaaa. Dan di bangku itu juga saya jadinya ngajarin si ibu pake hijab :D terus dia juga nanya-nanya "Hijab teh pakaian khas Indonesia atau gimana, neng?" yaudah akhirnya saya menjelaskan hijab itu apa dan kepada siapa aurat saya boleh diperlihatkan.

Seketika, jadi berasa public relationnya umat Muslim sedunia gitu yang lagi menjelaskan tentang hijab. Haha, berlebihan.

Gak lama, sekumpulan anak-ibu-dan temannya pergi. Saya pun melanjutkan perjalanan. Di jalan, tiba-tiba saya melihat rombongan turis seperti dari negara Arab gitu. Pas lagi jalan, saya sempet papasan sama bapak-bapak pake gamis putih yang senyumin saya. Kemudian saya senyumin balik aja. Gak lama, saya disamperin orang "Assalamualaikum, sister!" nengok lah saya trus dijawab "Waalaikumsalam" kemudian si ibu dari rombongan turis ini nyamber lagi "This is my first time meeting Muslim sister here. Can I hug you?" dan entah ada dorongan apa, saya meluk aja ibunya. Aaaaah heartwarming banget. Emang susah banget nemu Muslim di Vietnam, terutama Hanoi. Katanya memang lebih banyak Muslim di HCMC. Entah kenapa saya gak ngerasa takut sama ibunya. Coba bayangin, ada orang asing tiba-tiba minta peluk di tengah taman. Gimana gak bingung? Tapi entah kenapa gak sempet kepikiran kayak gitu-gitu. Akhirnya kita ngobrol panjang lebar. Ibu Fauziah dari Afrika Selatan ini ternyata punya teman di Indonesia, ketika saya cerita saya dari Indonesia. Dan dia nanya juga seperti orang lain "Kamu kesini sendirian? Orangtua kamu gak apa-apa?" dan semacamnya. Hingga akhirnya kita harus berpisah karena ibunya mau makan sama rombongannya sementara saya tetap going solo.

Selama saya tinggal di apartemen yang saya inapi juga saya bertemu beberapa orang. Ada dua turis cewek Eropa, bapak dari Prancis, dan........entah siapa lagi. Biasanya ketemunya kalau sarapan. Tapi saya gak pernah ngobrol sama tiga makhluk di atas. Saya ngobrolnya sama Mr. Andre dari Montreal, Kanada. Dan lagi-lagi, Alia Rachma Ningtias gak minta foto sama orang. Tadinya Mr. Andre liburan di HCMC namun akhirnya memutuska untuk pergi ke Hanoi. Gak tahan panas kali, ya. Asik banget cerita sama Mr. Andre, sayangnya saya baru ketemu dia di dua hari terakhir saya di Hanoi :( dan cuma sempet ketemu pas saya sarapan dan nunggu taksi mau ke bandara pas pulang.

Anyway, selama di Hanoi saya sering dikira orang India -_- dan masih berumur 18 tahun. Iya, tau. Saya emang awet muda, haha. Dan senang sekali banyak yang suka dengan hijab saya. "Wow, you look beautiful with your scarf" ujar Mr. Andre.

Selain makhluk-makhluk di atas, tidak lupa saya berkenalan dengan yang sudah menumpangi saya rumah, Dzung dan Thao. Dzung dan Thao ini saya temukan di Airbnb. Mereka kakak beradik yang pernah tinggal juga di Perancis selama 8 tahun. Nah, saya tuh tinggalnya di rumah yang berbeda dengan mereka jadi jarang banget bisa ketemu. Makanya di hari terakhir di Hanoi saya bela-belain biar bisa hangout bareng sama mereka. Sayangnya, Thao lagi sibuk ngajar bahasa Vietnam jadi gak bisa ikutan. Akhirnya saya jalan aja sama Dzung, nongkrong di kafe. Kita cerita-cerita bedanya Indonesia sama Vietnam. Which is ternyata gak beda-beda amat. Crime rate tetap tinggi, walaupun lebih tinggi di HCMC sih dibanding Hanoi. Trus perekonomian didominasi apa aja, karakteristik orang HCMC dan Hanoi, tempat wisata yang sudah saya kunjungi. Dan baru ketahuan ternyata Dzung juga tidak terlalu fasih bahasa Inggris setelah saya ajak ngobrol. Karena selama saya chatting di Airbnb, he seems fine, jadi saya merasa aman-aman aja.

Mbak-mbak di panti asuhan

Yang kemudian nyamperin pas lagi duduk-duduk (yang minta ajarin pake hijab yang di sebelah kanan foto)

Ibu Fauziah dari Afrika Selatan

Hostfam yang budiman
Kepada orang-orang ini, terimakasih sudah mewarnai kehidupan saya di Hanoi untuk beberapa saat!

Comments

Post a Comment