Constant Need To Explore More

Pernahkah kalian merasakan jenuh ketika mempelajari sesuatu? Dan kemudian kalian ingin berpindah mempelajari hal lain? Kalian tidak bisa fokus hanya kepada satu topik. You have a constant need to know more. To learn something new.

Saya sering merasakannya.

Dari kecil saya senang membaca, terutama ensiklopedia. Saya senang membaca tentang luar angkasa, geografi, sejarah. Saya juga senang mengagumi karya seni kuno, membaca tentang peradaban Romawi dan Mesir, serta riset kecil-kecilan tentang dunia forensik dan kriminal. Ohiya, karena ibu dulu juga suka membeli majalah arsitektur, saya juga sempat senang mengagumi desain bangunan, terutama interiornya, hingga sekarang. Saya juga senang menulis dari kecil hingga sekarang. Terbukti dengan blog ini yang alhamdulillah masih bisa diisi. Beranjak dewasa, saya mulai menemukan bahwa ekonomi adalah topik yang menarik. Hingga akhirnya membawa saya kepada pilihan jurusan saya di kuliah, Manajemen. Kenapa manajemen? Sederhana, saya bosan. Saya agak lemah untuk hitungan. Dengan memilih manajemen, saya berharap ilmunya lebih bisa diterapkan secara utuh di kehidupan. Menurut saya ketika itu, ilmu ekonomi terlalu abstrak untuk bisa memberi dampak langsung kepada hidup saya. Padahal setelah dipikir-pikir, ekonomi adalah ilmu memilih. Dan dalam keseharian, kita selalu dihadapkan oleh beragam pilihan, bukan?

Banyaknya ketertarikan berpengaruh kepada jawaban saya ketika ditanya "Mau jadi apa kalau sudah besar?" Dari beragam ketertarikan saya, sering kali jawaban saya berubah. "Mau jadi arsitek" ketika masih SD. "Mau jadi detektif" karena saya pernah menemukan diri saya penasaran dengan dunia kriminal setelah keseringan nonton CSI : NY. "Mau jadi ahli simbol seperti Robert Langdon" setelah menonton Angels & Demons (Percayalah, dulu ketika SMP saya pernah riset tentang beragam benda seni dan tentang simbol-simbol di dunia. Kemudian setelah melakukan 'riset' tersebut, saya menemukan fakta bahwa profesi seperti Robert Langdon sesungguhnya tidak ada di dunia. Tapi saya percaya, suatu hari profesi tersebut akan ada.). Atau kalau lagi capek sama kuliah kadang mikir "Mau jadi travel blogger aja deh" karena saya juga suka jalan-jalan dan menulis. Daftar cita-cita saya masih panjang sebenarnya. Dari arkeolog hingga jadi pebisnis, you name it.

Dari sekian banyak ketertarikan, saya sering merasa saya tidak bisa fokus mendalami satu ketertarikan. Salah satu contoh mudah adalah ketika saya dihadapkan oleh berbagai pilihan topik apa yang disukai di Flipboard (itu loh, aplikasi yang menyediakan artikel dari beragam media mengenai beragam topik) sehingga nanti Flipboard bisa menyaring dan menyajikan artikel yang sesuai dengan minat saya. Pada akhirnya, topik yang saya pilih beragam. Banget. Dari film hingga sejarah. Dari desain hingga media. Tapi tahukah kalian? Pada akhirnya, saya juga tidak pernah membaca dengan sungguh-sungguh artikel yang diberikan Flipboard. Saya selalu ingin tahu banyak hal, namun karena saking banyaknya yang saya ingin tahu, terjadilah information overload dan akhirnya saya capek sendiri. Akhirnya, malah saya jadi meninggalkan semuanya dan untuk beberapa saat sempat kehilangan minat untuk hal-hal yang saya minati.

Bahkan sejujurnya, saya pernah merasakan bosan belajar mengenai pemasaran, peminatan saya. Sempat terpikir untuk pindah jurusan ke jurusan baru yang dibuka di fakultas saya, tapi itu juga cuma 5 detik sih kepikirannya, haha. Hati kecil saya sering saya ajak berkonsultasi "Kenapa sih, Ay? Kok gak se-passionate dulu lagi kalau belajar?" Sedih memang. Saya juga bingung bagaimana menjawab pertanyaan tersebut, sementara teman-teman saya sepertinya sudah sangat sadar atas apa yang sedang ia kerjakan sekarang. Sudah memberi kontribusi dengan jalannya masing-masing. Dengan menerbitkan jurnal misalnya, berbisnis atau bergerak di kegiatan sosial.

Kegelisahan ini semakin menjadi di semester ini. Sadar bahwa sebentar lagi sudah mau lulus (aamiin!) dan belum tau ingin jadi apa, terkadang membuat saya berpikir lebih dalam tentang apa tujuan hidup saya *zen mode : on*. To be honest, I'm afraid I haven't found my true calling.

Kemudian semua berubah ketika saya menemukan post di Instagram senior saya mengenai orang-orang yang tidak bisa menemukan true callingnya, memiliki keinginan untuk belajar mengenai banyak hal, tidak bisa fokus di satu bidang saja. Dan kemudian saya rasanya ingin teriak "Ya ampun ada juga yang merasakan hal yang sama dengan saya!" Akhirnya saya minta link artikel yang disebut senior saya di postnya dan link TED Talknya. Saya baca artikelnya dan saya tonton TED Talknya.

Orang-orang seperti saya yang ingin menguasai banyak hal ini sudah ada sejak jaman dahulu. Leonardo Da Vinci, Ibnu Sina, Aristoteles, Copernicus, Al Biruni, daftarnya masih panjang. Mereka dikenal sebagai Polymath. Ada yang menyebutnya sebagai scanners, renaissance man, atau multipotentialite seperti yang dijelaskan di TED Talks.

Somehow, saya merasa senang menemukan bahwa banyak tokoh hebat di dunia adalah Polymath. Dan jadi berpikir apakah dulu Da Vinci pernah merasa galau karena bingung tidak bisa menemukan fokus hidupnya?

Apa yang harus dilakukan seorang multipotentialite dengan kegelisahannya ketika tidak menemukan true calling mereka? Jawabnya, embrace it. Dunia memang butuh spesialis untuk bisa mendalami satu hal. Namun seorang multipotentialite adalah orang yang akan membawa pengetahuan ke area yang lebih luas dengan kemampuannya mensintesiskan ide-ide. Apa saja kemampuan seorang multipotentialite? Tonton yah di sini.










Beneran, habis nonton ini saya lega kalau saya tidak kenapa-napa. Yang perlu dilakukan sekarang adalah mencari cara supaya bisa fulfilling the constant need to explore more yang tidak bikin saya lelah akhirnya.

Comments