Journey To The Legal Age : #2 Syarat Pergi Bukanlah Tua

Dalam dua dekade hidup saya, sudah ada beberapa kepergian teman sebaya dan senior yang harus direlakan untuk selamanya.

Sebenarnya, saya sendiri sudah tidak asing dengan kepergian. Saya sudah kehilangan ibu yang menjadi panutan saya sejak kecil ketika saya baru menginjak SMP. Kemudian kehilangan nenek yang menjadi pengganti ibu saya ketika saya berkuliah. Namun, merupakan hal yang berbeda ketika yang pergi adalah teman yang seumuran dengan saya atau senior yang jarak umurnya tidak terlalu jauh dengan saya.

Walaupun tidak memiliki hubungan darah, ada perasaan hampa yang tetap hinggap ketika membaca kabar duka. Melihat nama yang tertera di layar, rasanya ingin membaca berulang-ulang pesannya. Seringkali saya tidak percaya dengan mata sendiri ketika membaca kabar duka tersebut. Kaget, selalu tidak pernah bisa diantisipasi. Bahkan ada yang kejadiannya secepat itu. Saya baru say hi dengan almarhumah di koridor sepulang sekolah sekitar waktu Ashar, kemudian Maghribnya muncul berita kepergian teman saya ini selama-lamanya. Seketika saya berpikir "Apa tadi memang last goodbye kita ya?"

Kita tidak pernah tahu kapan kita atau orang di sekeliling kita akan dipanggil untuk pergi. Namun dari yang selama ini saya pahami, teman dan senior saya yang pergi terlebih dahulu adalah orang-orang yang sangat disayang tuhan. Mereka jiwa-jiwa yang bersih. Saya selalu menyadarinya ketika hadir di ruang tunggu rumah sakit, melihat lini masa yang menyebarkan kabar duka tersebut ditambah ekspresi kesedihan teman yang ditinggalkan, ketika hadir di pemakaman, hingga hari-hari bahkan tahun-tahun selanjutnya setelah mereka pergi. Rasanya semesta bersekongkol untuk tetap menyisakan tempat agar nama mereka terus diingat banyak orang, bahkan yang secara pribadi tidak pernah disentuh oleh mereka yang sudah pergi.

Syarat pergi memang bukanlah menjadi tua. Bahkan pergi pun sesungguhnya tidak bersyarat.
Maka sebelum pergi, coba periksa lagi. Sudah berapa banyak hidup yang telah kita sentuh hingga nantinya mereka yang masih hidup terus mengenang kita ketika sudah pergi? Sudah berapa hidup yang disentuh hingga akhirnya nanti mereka yang ditinggalkan terus langgeng mendoakan yang sudah pergi?

Comments