Journey To The Legal Age : #3 Menghargai Kehadiran

Ketika ada seseorang yang memprioritaskan waktu untuk mendengar keluh kesah teman di antara kesibukannya, menurut saya ia adalah seseorang yang menghargai kehadiran individu di sekitarnya.

Salah satu bentuk paling sederhana dalam menghargai kehadiran seseorang dalam hidup adalah menganggap seseorang itu ada. Bukan hanya ada secara fisik, namun juga secara pikiran dan hati. Berawal dari sapaan singkat seperti "Hei, apa yang baru di hidupmu?", terkadang bisa membuka jalan kepada berbagai hal. Kita tidak pernah tahu apa yang ada di kepala teman sebelum kita menyapanya. Boleh jadi sapaan tadi akhirnya meluluhkan pikiran-pikiran aneh di kepalanya dan mendorong otot mulutnya untuk berkeluh kesah kepada kita. Maka, dengarkanlah. Bukan hanya dengan telinga, namun gunakan semua indera. Dengarkanlah bukan hanya sekedar untuk membalas ceritanya. 

Selain mendengarkan, bercerita kepada teman juga menurut saya adalah cara sederhana untuk menghargai kehadiran seseorang. Bercerita kepada seseorang memang terkadang tidak mudah. Jika masalah terlalu rumit, kadang saya tidak percaya bahwa orang lain bisa mengerti apa yang saya rasakan ketika menceritakan hal tersebut. Namun terkadang, ada saatnya beban yang saya tanggung tidak bisa saya pendam sendiri. Ketika saya tahu saya memiliki orang-orang yang siap sedia menjadi pertolongan pertama saya ketika saya lemah, saya akan berusaha menceritakan apa yang sedang saya lewati saat ini. Saya menghargai mereka yang sudah bersusah payah hadir ke dalam hidup saya.

Kesannya memang sangat altruis ya? Memprioritaskan orang lain dibanding diri sendiri. Namun percayalah, ini merupakan cara yang harus ditempuh untuk merawat pertemanan di usia 20an. 
Terlebih dengan kesibukan masingmasing mengejar ambisi hidup. Ada banyak yang harus dipusingkan dan digalaukan ketimbang merawat pertemanan. Karena pada dasarnya, kita dilahirkan sendiri-sendiri dan kelak meninggalkan dunia ini sendiri-sendiri juga.  

Namun nyatanya, manusia diciptakan sebagai makhluk sosial. Ada banyak hal yang harus kita gantungkan kepada orang lain untuk bisa meneruskan ambisi-ambisi pribadi kita. 

Memulai pertemanan di usia 20 memang tidak semudah usia kanak-kanak. Kita sudah terbalut status, predikat, cap dan label yang menutupi siapa diri kita sebenarnya. Maka, ketika sudah menemukan teman yang cocok dan sadar bahwa teman ini sudah bersusah payah untuk masuk ke hidupnya, hal terbaik yang bisa kita lakukan untuk membalas kebaikannya adalah dengan menghargai kehadirannya. 

Terkadang memang bukan masalah siapa yang terlebih dahulu masuk ke dunia kita, namun siapa yang paling pandai menghargai kehadiran kita dalam waktu yang terbatas. 

Saya sendiri terkadang masih khilaf untuk menghargai kehadiran seseorang. Ada beberapa yang luput dan akhirnya pergi. Maka, ini akan terus menjadi pelajaran saya sepanjang hidup. 

Comments