Journey to The Legal Age - Prologue and #1 Living In My Own Timezone

Halo!
Jadi ini merupakan salah satu proyek liburan panjang saya. Proyek ini dinamakan Journey to The Legal Age. Latar belakang tercetusnya ide proyek ini adalah karena sebentar lagi akan menginjak usia legal dan banyak hal yang telah dilewati oleh seseorang di awal 20nya dan hidup sebelum 20 tahun. Di proyek ini, saya akan banyak cerita saja tentang apa yang sudah saya lalui selama 20 tahun menghirup udara di Bumi. Kenapa baru mulai sekarang? Karena baru sempat :"D
Oh iya, proyek ini juga diharapkan menjadi pemicu untuk kembali rajin menulis, meregangkan otot-otot jari yang sudah lama tidak dipakai menulis (selain digunakan untuk mengerjakan tugas magang).

So, here goes my first

Hidup di awal 20an memang tidak pernah mudah. Ralat, hidup memang tidak pernah mudah. Karena dalam hidup, kita tidak bisa mendapatkan kunci jawaban atas pertanyaan-pertanyaan hidup di depan kita, bukan?

Berbicara mengenai pencapaian-pencapaian di umur 20 awal, dulu (terkadang sampai sekarang) saya seringkali menemukan diri saya insecure terhadap teman-teman saya yang sudah bergelimang prestasi, sudah bolak-balik ikut konferensi internasional, membangun bisnisnya di usia yang masih muda, hingga menemukan teman saya yang sudah serius dengan pasangan-pasangannya dan sudah merencanakan untuk lanjut ke tahap berikutnya. Sementara saya? Duduk di sini sambil mendengarkan dan melihat potongan-potongan hidup mereka, baik secara langsung maupun lewat sosial media.

Dan ternyata ini bukan saya saja yang mengalami. Beberapa teman saya juga ditemukan jadi agak malas membuka sosial media karena takutnya mereka jadi tidak mudah bersyukur dengan apa yang sudah mereka miliki, akibat terbawa suasana setelah melihat potongan cerita temannya yang baru saja menceritakan prestasi terbarunya di sosial media.

Tapi kalau dipikir-pikir, ada saatnya kita tidak bisa menghindari paparan cerita teman atau orang di sekeliling kita tentang kesuksesan mereka. Tidak mungkin juga kan ketika teman baru mau cerita kemarin habis pulang konferensi, kemudian langsung kita samber "Eits, udah gak usah cerita."

Yes, setiap orang punya zona waktunya sendiri. Ada yang bisa mencapai banyak hal dalam waktu singkat, ada yang agak lama prosesnya namun ternyata hasilnya bahkan lebih baik dari yang sudah mencapai banyak hal di waktu singkat. Mark Zuckerberg membangun Facebook di usianya yang baru menginjak 20 tahun, sedangkan Kolonel Sanders baru membangun restoran cikal bakal KFC pada usia 47 tahun. Tapi hal ini bukan berarti Sanders gagal dalam hidupnya. Sanders bekerja pada zona waktunya sendiri. Begitu juga dengan lingkungan terdekat kita. Ada yang bisa lulus kuliah dalam waktu 3,5 tahun dan langsung kerja, lulus 4 tahun tapi belum dapat pekerjaan hingga bertahun-tahun lamanya, bahkan ada yang baru lulus setelah melewati belasan semester. Semua orang memiliki zona waktunya masing-masing dan ada banyak jalan mencapai definisi sukses masing-masing individu.

Dari yang saya pahami, hal terpenting yang harus dimiliki setiap orang ketika bekerja dalam zona waktunya masing-masing adalah rasa syukur terhadap pencapaian diri sendiri. Kita tidak bisa tahu bagaimana kita bereaksi setelah mendengar kabar tentang prestasi teman kita. Bisa saja seketika kita iri, cuek, atau malah ikutan excited dengan pencapaian teman. Nah, rasa syukur yang dimiliki bisa menjadi tameng kita supaya tidak mudah iri dengan pencapaian teman kita.

Hal penting lainnya adalah selalu menjadikan prestasi teman sebagai motivasi untuk melakukan continuous improvement terhadap diri sendiri. Bersyukur dengan yang sudah dimiliki memang penting, namun merasa cukup untuk hal-hal yang sudah lewat rasanya tidak perlu selalu dipertahankan. Bingung ya? Intinya, kita tidak seharusnya hidup untuk terus membanggakan masa lalu. Nah, ketika seseorang hanya merasa sekedar cukup atas apa yang dia punya tanpa motivasi untuk terus memperbaiki diri, menurut saya adalah hal yang merugi. Karena pada hakikatnya, kita hidup untuk hari ini dan masa depan, bukan?

Comments