2017, Year of Courage

Jika ada satu kata yang bisa menggambarkan bagaimana 2017 saya berjalan, mungkin kata itu adalah berani. 
2017 menurut saya adalah tahun dimana saya harus berani melakukan banyak hal baru dan mendorong batas-batas kemampuan saya sebelumnya. Seperti tahun-tahun sebelumnya, banyak sekali pelajaran yang saya dapatkan di tahun ini.

1. "Jabatan itu jangan dicari"

Saya selalu percaya bahwa jabatan adalah sebuah amanah. Ia tidak akan pernah salah diletakkan kepada sembarang orang. Kalau dirasa belum mampu menjalankannya, mungkin amanah itu adalah pelajaran tersendiri bagi yang belum mampu agar lebih siap di kemudian hari. Dan pasti selalu ada jalan untuk mereka yang bersungguh-sungguh dalam amanahnya.

Akhirnya, saya berani mengambil keputusan untuk kembali ke organisasi yang sudah menaungi saya selama dua tahun terakhir. Pada akhirnya, target saya untuk menjadi lebih prestatif hanya wacana belaka, walaupun di awal tahun sudah diusahakan juga. Mungkin bukan jalannya saya untuk menjadi prestatif secara akademis di kuliah ini. Entahlah.

Berani untuk mengorbankan waktu luang, berani mengurangi waktu bermain bersama teman. Bukan keputusan yang mudah, tapi saya cukup bangga dengan keputusan saya.

Jajaran PI paling posesif nan drama sejagat raya


CoCku yang keren parah!
Untuk kalian yang memudahkan saya dalam mengemban amanah ini, saya ucapkan terimakasih. Untuk segala tawa, tangis, canda, duka serta drama yang pernah dijalani, semoga banyak pelajaran yang bisa diambil di dalamnya dan menjadikan kalian makhluk yang selalu ingin belajar dan berkembang. 

2. "There's always first time for everything"

"Ay, when was your last time doing something for the first time?"

Di tahun ini, banyak sekali hal baru yang saya lakukan. Ada yang memang karena kewajiban, ada yang sebenarnya sunnah tapi ya karena pertanyaan di atas, akhirnya dilakukan juga. 

Pertama kali pergi ke luar negeri, sendirian. Harus menebarkan kebaikan di negeri orang, padahal belum tentu di negara sendiri jadi orang baik ._. 
Pertama kali nyasar di luar negeri dan sempet kaget karena ponsel pintar yang saya andalkan seketika tidak jadi pintar. Padahal, ponsel ini adalah nyawa saya. Kemana-mana kalau jalan ya pake Google Maps. Apalah saya tanpa si ponsel. Tapi alhamdulillah bisa kembali pulang ke apartemen tempat saya menginap dengan selamat sentosa. 
Hanoi habis hujan. Gak jauh beda sama Puncak dinginnya.
Banh Mi and Frozen Yoghurt on Friday Nite. Alone.
Stok fotonya gak banyak di Hanoi karena susah foto sendirian yang bagus tuh. Tapi ya beberapa foto itu cukup membuat saya rindu jalan-jalan sendirian di tengah Hanoi yang basah. 

Pertama kali juga magang. Jadi karena ingin mewujudkan resolusi "magang di libur 3 bulan" akhirnya sebelum liburan semester 6 ke 7, sibuklah mengirimkan serangkaian berkas rekrutmen magang. Ada yang dipanggil wawancara tapi akhirnya gak dikasih kabar gimana kelanjutannya. Jadi saya anggap saja tidak pernah melakukan wawancara tersebut. Ada yang ditolak dengan halus. Tapi jujur, lebih seneng kalau kayak begini. Setidaknya ada kepastian. Tapi pada akhirnya, malah dapet magang di tempat yang gak saya lirik untuk daftar. Tapi karena keajaiban dan doa serta niat tulus *cia boong lagi* akhirnya dapet juga tempat magang. Walaupun pekerjaannya jauh dari ekspektasi saya, tapi tidak apa-apa. At least sudah punya pengalaman. Yang akhirnya membantu saya di proses pelamaran magang impulsif yang sedang saya lakukan sekarang. Btw, doain aja yang terbaik ya pembaca buat daftar magang semester depan. Saya juga masih galau kalau beneran jadi magang, apa kabar skripsinya.

Pertama kali juga naik gunung! Sebenernya udah diajakin naik dari awal semester 7, tapi kayak belum pasti gitu kan. Hingga akhirnya bener-bener gak wacana pas jaman UAS kemaren, sekitar dua minggu yang lalu. Ditentukanlah Gunung Papandayan sebagai gunung pertama yang akan saya daki. 


Pendakian perdana selama 21 tahun hidup bersama body guard sejak dulu kala
Leyeh-leyeh pagi hari di tenda

Setelah jalan dan manjat 2 jam lebih

Walaupun gak sampai puncak, tapi perasaan berada di ketinggian ribuan meter di atas permukaan laut dan jauh dari hiruk pikuk perkotaan menurut saya sesuatu yang bisa saya banggakan. Dengan persiapan yang dicukup-cukupin, pengalaman yang 0 tentang naik gunung yang baik dan benar, serta segala ketidakpastian, berhasil juga sampai di tujuan!

3. "All you have to do is listen carefully"

Kadang kita gak pernah paham kenapa seseorang bertindak sedemikian rupa. Kadang tindakan mereka membuat kita tidak nyaman. Akhirnya malah jadi judging sana sini. Ngomongin. Suudzon. Dan banyak hal lainnya. Jalan terbaik untuk mengetahui motif dibalik semua tindakan aneh teman kita adalah dengan mendengarkan kenapa dia melakukan hal tersebut. Hingga akhirnya nanti kita paham, dan gak judging dan suudzon lagi ke teman kita. 

4. "Sometimes, you just have to confront it" 

Kalau dirasa ada yang menganggu dan ingin segera menyelesaikan masalah, konfrontasi menurut saya adalah jalan akhir terbaik. Saya biasanya cenderung menghindari konflik, jadi agak enggan untuk mengkonfrontasi suatu hal. Namun karena dirasa hal tersebut terlalu sayang untuk dibiarkan begitu saja, mau tidak mau harus mengalahkan rasa tidak nyaman menuntaskan masalah dengan berhadap-hadapan. 

5. "Everything is temporary, everything will be just a memory. So make the best one"

Setiap jiwa, pasti akan kembali kepada pemiliknya. Berapapun umurnya, tak ada syarat untuk pulang. Dan kita gak pernah tahu kapan pada akhirnya waktu itu tiba. Merelakan kepergian memang tidaklah mudah, baik untuk sementara maupun selamanya. Hal terbaik yang bisa dilakukan adalah membuat memori terbaik dan menyentuh lebih banyak orang di sekeliling kita. 

6. "If it's meant to you, never in a thousand years it will be for someone else"

Sebenarnya, prinsip ini memang selalu saya pegang sejak SMA. Tapi di tahun ini, jadi makin berasa related dengan perkataan ini untuk banyak kondisi. Dari tawaran posisi di organisasi, dapat tempat magang yang posisinya selalu saya kepoin dari dulu, dikasih kesempatan ke negara yang sesuai dengan kemampuan saya waktu itu tanpa halangan berarti. 

7. "Let it all out, it feels so much better"

Di tahun ini, entah kenapa saya jadi lebih terbuka untuk menyampaikan hal-hal yang biasanya gak pernah saya bahas dengan teman. I let my guard down. Bukan berarti lemah, namun memang sudah saatnya berdamai bahwa terkadang memang ada hal-hal yang tidak bisa saya tanggung sendiri. Kadang ada emosi yang harus dikeluarkan sehingga tidak terakumulasi dan akhirnya menyakiti diri saya sendiri.

Seperti yang saya baca di buku Tuesdays with Morries, ini dinamakan detaching yourself. Jadi, disarankan memang untuk merasakan suatu emosi, namun hanya untuk jangka waktu tertentu. Selebihnya, sudah harus dilupakan emosi yang memeluk erat diri kita sebelumnya.

Ada kalanya butuh waktu sendiri untuk berdamai dengan diri. Namun ada saatnya juga perlu teman untuk diajak berbincang sejenak. Dan syukurnya, tahun ini masih dikelilingi orang-orang yang bisa saya jadikan tong sampah.




Entah harus bilang apalagi untuk orang-orang yang sudah mewarnai 2017 saya. Baik yang baru datang maupun telah lama menetap. Dan tidak bisa berhenti bersyukur sudah diberi kesempatan yang luar biasa untuk tahun yang luar biasa. 


Comments