Let's Talk About Bad Vibes, Shall We?

Semenjak tahun lalu, saya merasa ada perubahan pada diri saya. Belum signifikan namun sudah mulai terasa. Hal ini berkaitan dengan opening up tentang hal-hal yang kalau dipendam bisa menggerogoti saya. Padahal, di sosial media kampanye good vibes only rasanya tidak asing selama saya menscroll layar saya.

Yang saya tangkap, dengan menjadi bagian dari good vibes only people, kita harus surpressing the bad vibes inside us, jangan ditularkan ke orang-orang. Selalu berpikir positif, selalu melakukan hal baik, mengurangi channeling out emosi buruk. Mungkin penafsiran tiap orang beda-beda. Setidaknya itu penafsiran saya.

Beberapa waktu yang lalu saya membaca artikel "Why Good Vibes Only May Be Bad Vibes Really" 
Silahkan dibaca jika tertarik.

Sebelum baca artikel ini, saya juga seringkali berfikir "Bagus gak sih kalau selalu being positive?" di antara banyaknya studi yang menyatakan hidup dengan positive vibe itu bikin umur panjang dan menjauhkan dari penyakit. Tapi coba kita analogikan dengan sebuah pipa air yang disumbat. Anggaplah air yang harusnya keluar dari pipa tersebut adalah bad vibes di kehidupan seseorang, yang pastinya akan selalu ada. Emosi negatif seperti sedih, kesal, marah, tidak mungkin luput dari siklus hidup seseorang. Suatu ketika, pipa tersebut disumbat. Artinya, air tidak bisa lagi mengalir sebagaimana harusnya kan? Bad vibes tersumbat dan tidak bisa dikeluarkan. Ketika suatu hari sumbatan dari pipa tersebut dibuka, otomatis air akan mengalir dalam volume yang tidak bisa diperhitungkan. Pada akhirnya, bad vibes malah jadi mengalir kemana-mana dan tidak terkontrol. 

Menahan untuk tidak menjadi orang yang menularkan bad vibes sejujurnya sangat menyebalkan. Ada hal yang harusnya diungkapkan namun pada akhirnya karena mantra good vibes only, akhirnya batal diungkapkan. Malah dipendam sendiri. Padahal emosi negatif akan selalu ada sepanjang kehidupan kita. Come on, kita bukan malaikat. Kita selalu punya sisi terang dan gelap. Kita selalu punya hari buruk dan terkadang kita tidak bisa menahan diri untuk menceritakan seberapa buruk hari kita. Kita memilih untuk tidak merasakan emosi tersebut dan yasudah, melanjutkan hidup.

Terkadang, merasakan emosi negatif itulah yang membuat hidup semakin ramai. Terkadang kita harus sedih, untuk mengerti apa itu bahagia. Harus paham sakit sebelum menghargai sembuh. Dan mengalami kecewa untuk bisa mengerti kepuasan. Bukankah hidup selalu dipenuhi dengan hal berlawanan? 

Ini pandangan saya aja sih, kalau kalian nyaman untuk terus menjadi jamaah good vibes only, ya tidak apa-apa :) 

Comments