5 Bulan Terakhir Ngapain Aja?

Where do I start?

Okay, first of all, I've finished my undergraduate journey on 4th of June. Alhamdulillah, that was the most fun thesis defense I've ever had (I have no defense to compare since that was my only undergraduate thesis defense. So...yeaaah...). Tapi  revisinya belum dibikin he he he.

Deg-degan gak? Hmm jujur, saya malah deg-degan pas ngeprint draft skripsi buat dikasih ke penguji dan pembimbing saat sidang. Ini berlangsung H-7 kalau tidak salah. Di H-1 sidang malah masih haha hehe gitu. Latian presentasi sedikit, baca-baca, tapi yaudah. Sempet sih di H-2 kayak ngerasa sensasi butterfly in my stomach atau...apa yah bilangnya. Kayak "ziiing...ziiing" gitu di perut. Tapi paling 5-10 menit aja kayak gitu, trus hilang. Cara ngilanginnya? Yakin aja semuanya akan berjalan baik-baik saja. Dan alhamdulillahnya pas sidang, cukup lancar kok. Walaupun feedbacknya super banyak dan memang ada beberapa part yang dipertanyakan. Tapi bisa dijawab ataugak nanti pengujinya yang jawab sendiri, he he he. Kalopun gak bisa tidur pas H-1, lebih karena gak ngantuk, bukan karena takut atau apa. Excited untuk cepat-cepat mengakhiri kali ya? Sampe harus disuruh tidur sama beberapa teman dulu, baru akhirnya bisa merem. Makasih ya buat yang udah ngingetin tidur! 

Pokoknya, terima kasih kepada handai taulan yang sudah mendoakan dan selalu mendukung perjalanan pembuatan skripsi ini. Saya jadi bingung gimana cara nulis kata pengantar saya nanti karena banyak banget yang berjasa bagi saya selama 5 bulan ke belakang ini. I love you all!

Oke, sepertinya ini saatnya untuk cerita 5 bulan ke belakang ngapain aja. Mungkin nanti akan ada cerita lanjutannya tentang bagaimana pasca kampus dan kegundahan yang dihadapi sehabis keluar ruang sidang. Walaupun kayaknya masih terlalu dini, tapi daripada nanti kelupaan?

Jadi seperti yang sudah diketahui, untuk meraih gelar sarjana dibutuhkan minimal 144 SKS lulus. Kalau di UI, 6 SKSnya diraih melalui penyelesaian tugas akhir. Di FE sendiri diberi 3 pilihan, skripsi, magang atau studi mandiri. Bentuknya studi mandiri agak kurang familiar sebenernya, jadi gak bisa saya jelaskan. Untuk departemen saya, magang mungkin saja dilakukan tapi agak tidak umum dan angkatan saya sih sepertinya gak ada yang ambil. Bentuk tugas akhir paling umum ya skripsi ini.

Dari pandangan saya selama 5 bulan ke belakang, menyusun skripsi ini salah satu bentuk mendorong diri agar going beyond the limit dan menjadi seorang individu yang proaktif. Jujur, selama berada di kelas 7 semester ke belakang, aspek menjadi individu yang proaktif ini agak kurang dibentuk. Karena jaminan untuk lulus masih bisa didapatkan dengan cara lain. Kalau tidak aktif diskusi, masih bisa dibackup lewat nilai ujian yang bagus atau tugas yang bagus. Nah, untuk skripsi, kalau dari awal prosesnya aja sudah kebanyakan pasif, gimana nanti ke depannya? Intinya, apa tindakan saya ke depan, adalah apa yang akan tuai di depannya. Nasib kelulusan juga kan adanya di tangan sendiri. Kalau masih belajar di kelas kan masih bisa mengandalkan teman, apalagi untuk tugas kelompok ataupun belajar bersama. Skripsi? Mikirin punya sendiri aja belum selesai, gimana mau bantuin teman?

Ini kapitalis banget sih pemikirannya. Tapi emang jadi belajar juga sejauh apa kita bantuin teman. Jangan sampai kita sibuk membantu teman tapi lupa sama kerjaan sendiri. Tapi tolong dicatet, bantuin temen pas skripsian itu penting! Caranya banyak banget sih sebenernya, gak perlu terpaku dengan bantuin skripsi teman. Skripsi itu selain kitanya berusaha sungguh-sungguh lewat rajin baca jurnal dan berbagai literatur, perlu diusahakan juga dengan amalan baik, kalau kata orang-orang. Karena kita gak pernah tahu, perbuatan mana yang kelak akan memudahkan jalan kita ke depannya, bukan? Tapi ya gak karena ingin dimudahkan jalannya kemudian serta merta asal juga bantuin temannya :D

Flashback dikit, saya merasa 5 bulan ke belakang adalah 5 bulan di mana saya jadi banyak menjalin silaturahmi dan bertemu banyak orang baru. Dari teman SMA yang dulu kalau ngumpul nunggu libur semester dulu, sekarang ada libur dikit pun bisa ngumpul (walaupun gak fullteam dan entah kapan kita fullteamnya, haha). Hingga teman seangkatan di kuliah (bahkan yang satu peminatan) yang biasanya cuma sekelas aja tapi gak pernah sapa-sapaan, sekarang jadi saling bantu dan malah ikut repot bantuin beresin berkas dan ngolah data. Malah ngerasanya jadi agak jauh sama teman peer group. Tapi mungkin benar, sudah saatnya untuk berkenalan dengan banyak orang baru.

Satu komponen penting dalam penyusunan skripsi ini adalah membangun chemistry dengan dosen pembimbing. Ohiya, jadi kalau di departemen saya, sebenarnya untuk mendapatkan dosen pembimbing ini harus melalui sebuah sistem di mana mahasiswa mengunduh proposal skripsinya lalu nanti 'dilelang' ke dosen yang berminat membimbing. Bisa juga ikut penelitian payung yang lagi dibuka departemen. Saya?  Tidak mengikuti proses ini :) Jadi semua bermula dari mau mengajak ngobrol seorang dosen untuk sharing tentang topik apa yang kayaknya oke untuk dijadikan topik skripsi pada semester 7. Akhirnya saya disuruh mencari jurnal terlebih dahulu. Saya yang masih kosong dan belum punya gambaran apa-apa akhirnya googling dulu topik menarik di peminatan saya apa. Akhirnya tercetuslah post-purchase regret. Saya singgung topik ini di percakapan. Respon dosen? Alhamdulillah super positif! Bahkan dapet bonus dosennya nawarin untuk jadi dosen pembimbing. Pas baca chat, rasanya pengen sujud syukur. Barulah di awal semester 8 saya ngobrol lagi dengan dosen ini. Ternyata dosennya tidak lupa janjinya. Senang sekali. Jadi, coba dari semester awal-awal, diingat-ingat dosen yang mungkin bisa diprospek untuk jadi teman sharing, syukur-syukur bisa jadi dosen pembimbing atau setidaknya bisa jadi yang ditanya tentang skripsi kalian.

Masalah membangun chemistry ini susah-susah gampang. Kayaknya kalau diperhatiin 5 bulan ke belakang, saya cenderung tipe pasif agresif ke dospem, haha. Dospem saya terbilang sibuk. Jadi kalau bimbingan face-to-face bener-bener manfaatin waktu banget buat nanya segala pertanyaan. Kalau di chat, perlu didoain dulu biar chatnya dibalas. Kadang ini bikin saya frustasi sendiri. Tapi yasudahlah, semua orang punya prioritasnya masing-masing termasuk dospem. Sejujurnya, saya bukan tipe orang yang senang memasang ekspektasi, namun kali ini saya memasang satu ekspektasi dan selalu mengulang sebuah doa yaitu "Semoga hubungan dospem ini bisa lebih dari pembimbing skripsi, namun lebih lagi ke depannya." Jadi, salah satu cara bonding saya dengan dospem adalah ceritain aja apapun kegundahan selama pengerjaan skripsi ini. Another plus point dari dospem saya adalah orangnya asik sekali. Jadi curhatan saya pun tetap ditanggapi (walaupun butuh beberapa waktu untuk menunggu adanya notif di HP) dan akhirnya jadi ngerasa super rileks pas ngerjain skripsi. Malah kadang dospemnya yang curhat ke saya, haha ini kocak banget sih. Intinya, hubungan yang baik dengan dospem insya Allah akan menjadikan proses pengerjaan skripsi menjadi super fun!

Dibanding departemen lain, saya menilai arus informasi dari departemen saya agak kurang baik jalannya dan kurang tersentralisasi. Kalau gak rajin nanya ke orang departemen, bisa bingung sendiri. Nah, dituntut lagi kan untuk jadi proaktif? Mungkin karena orangnya banyak juga kali ya departemen saya, jadi yang kedengeran dari satu orang, pas disebar ke orang lain trus disebar lagi bisa beda infonya. Departemen saya termasuk yang longgar masalah deadline, baik pengumpulan berkas ataupun proposal. Intinya, mahasiswa harus bisa mengukur sendiri kapan skripsinya harus selesai dan bikin strategi sendiri. Yes, selain dipusingin sama mau nulis apa, proses administrasi juga bisa berpengaruh terhadap alur mendapatkan gelar. Ada teman saya yang sudah mengajukan berkas sidang jauh sebelum saya mengajukan berkas, namun tak kunjung melanjutkan proses pemberkasannya karena tidak tahu ternyata berkas dia harusnya sudah bisa diambil dan dilanjutkan lagi proses penyelesaiannya. Tapi karena teman saya orangnya tipe menunggu dan saat itu orang departemen belum memberi info apa-apa ke teman saya, akhirnya ya teronggoklah berkasnya. Padahal kalau rajin nanya, saya yakin teman saya sidangnya bisa lebih dulu dari saya. Intinya, skripsian mendorong seseorang jadi individu yang taktis, inisiatif, gesit.

Dulu saya bercita-cita "Skripsinya harus nol ya Ay revisinya."Me and my idealistic thought. Hari berganti minggu, berubah lagi menjadi bulan, cita-citanya berubah jadi "Yang penting kelar". Yes, skripsi yang tidak revisi merupakan sebuah kemustahilan karena kesempurnaan hanya milik Allah SWT, bukan begitu teman-teman? Kan kita tidak pernah tahu juga apa yang salah dari kita kalau tidak dinilai oleh penguji. Jangan sampai terlena dengan cita-cita idealis namun jadinya terlewat dari deadline yang sudah ditentukan juga.

Akhir kata, skripsi mah dikerjain aja, kelar kok pasti. Yang bikin susah adalah pikiran-pikiran yang kadang menghantui atau malah masalah yang tidak berkaitan dengan skripsi. Ini emang perlu strategi juga untuk bisa mengendalikan diri jangan sampai hancur karena masalah-masalah sepele. Have a little faith to yourself  bahwa badai pasti akan berlalu kok. Good luck! 

Comments