Hidup Setelah Bergelar, Berubahkah?

Ehem

Jadi begini

Ceritanya sekarang saya sudah resmi jadi beban negara! *throwing confetti*
Setelah dua minggu lalu melewati serangkaian prosesi dari yudisium, gladiresik, sampai akhirnya wisuda, resmilah jadi beban negara seutuhnya *happy tears? no?* Walaupun sebenarnya sudah menganggur dari sejak revisi skripsi selesai. Yudisium dan wisuda hanya mempertegas kondisi, haha.


Udah ngasal banget ngelempar topi toganya
Sens minus banyak tapi tetep gemesh

BPM yang tibatiba jadi lintas generasi

Makasih buat hadiah lucu, ucapan baik, dan kedatangannyaa! Huhu cuma bisa balas kebaikan kalian dengan doa terbaik saja buat kalian :"

Gak kerasa ya, blog ini ternyata sudah menjadi catatan perjalanan saya dari jaman labil di SMP sampai sudah dapat gelar sarjana (yang mana saya juga tetap saja masih suka labil). 

Gimana rasanya, Ay?
Kalo masalah lega, sebenernya udah lega dari jaman kelar revisi skripsi sih. Jadi udah menurun gitu tingkat kelegaan menyelesaikan studinya pas mulai prosesi yudisium sampai wisuda. Senang? Pasti lah. Bisa menyelesaikan studi tepat waktu sambil melalui berbagai rintangan selama empat tahun benar-benar membuat senang. Di satu sisi, sedih juga. Oh how time run and flies so quickly! Pergi aja gitu momen dari jaman pertama ngukur Jakun di Balairung, nganyam name tag buat OPK, kelas pertama di FE, daftar ini dan itu, presentasi berbagai tugas, nyiapin skripsi, akhirnya sidang dan lulus. Seperti yang pernah saya bilang di Twitter saya 




Terlebih lagi karena sudah resmi jadi beban negara, tanggung jawab bertambah juga. Ngerasa belum siap aja gitu, haha. Mungkin ngerasa belum siapnya karena masih terlalu blur akan berlabuh kemana setelah ini. Apakah kerja dulu atau S2 dulu. Kalau kerja, mau kerja di tempat seperti apa? Kenapa memilih kerja disitu? Kalau S2, mau kemana dan belajar apa? Kenapa ngambil jurusan itu? Dan banyak lagi pertimbangannya. 

Jadi sekarang ngapain aja Ay? Sembari ngirim lamaran kemanamana, saya jadi bisa bangun dan tidur  seenak jidat, mengajar paruh waktu di sebuah bimbel, menonton film yang selalu ingin ditonton, jalan-jalan kemana saja yang aku inginkan (sendirian juga gak apa-apa, yang penting ada uangnya, haha), nyobain resep-resep lagi (ya walaupun banyak gagalnya juga), dan bisa memikirkan banyak hal yang biasanya tidak sempat dipikirkan.

Dipikir-pikir, hal-hal di atas pasti bakal saya rindukan kalau nanti saya sudah bekerja. Makanya, walaupun kadang suka buka-buka Instatories atau LinkedIn sambil bilang "Ih enak ya si ini udah kerja aja" "Ih si itu sudah hari pertama di kantor", lubuk hati sisi lainnya bilang "Enak juga ya nganggur" "Nikmatin dulu Ay nganggurnya, ntar kangen lagi." Sangat kontradiktif memang, haha. 

Omong omong tentang melamar kerja, sampai tahap ini saya merasa sudah super kalap melamar kerja. Apalagi habis banding-bandingin sama teman, sudah melamar kemana saja. Tapi dari sekian banyak yang sudah dikirimkan CV saya, yang dipanggil baru sedikit sekali. Jujur, sempat bikin demot beberapa saat. Di satu sisi, sudah capek gak punya kerjaan setelah selesai mengumpulkan skripsi dan membereskan segala administrasi di kampus, di mana hal tersebut sudah berlangsung sekitar 2 bulan sepertinya. Udah berasa jamuran banget kalo di rumah tuh, haha. Tapi sisi hati yang lain bilang "Mungkin ini saatnya kamu istirahat dulu Ay. Jadi nikmatin aja." Tapi ya namanya manusia ya, sukanya banding-bandingin rumput tetangga dan selalu iri kalau rumputnya lebih hijau.

Doakan saya bisa memaknai masa pengangguran ini sebaik-baiknya supaya nanti waktu sudah dapat kerja jadi lebih bersyukur dan tidak banyak mengeluhnya ya :D 

Ehiya!
Jadi kemarin siang saya tuh iseng bertanya melalui akun Twitter saya. Pertanyaannya adalah


Pertanyaan ini muncul ketika saya sedang mengevaluasi CV saya. "Eh iya ya, kan udah wisuda Ay. S.Enya gak dipakai?" ujar saya saat itu. Tapi setelah ditelaah lagi, makin kesini kayaknya jarang banget nemuin orang yang masang gelarnya kecuali dosen-dosen, bahkan ada beberapa dosen yang cenderung tidak bergelar juga. Di LinkedIn yang harusnya jadi ajang memasarkan diri dengan CV yang kerapkali bikin saya iri dan dengki, jarang sekali menemukan orang yang menuliskan gelarnya. Pikir saya saat itu "Preferensi aja kali ya." 

Saya tadinya berniat menambahkan gelar di CV saya, tapi entah kenapa perasaan aneh hinggap di diri saya "Buat apa Ay gelarnya? Emang kalau gak pake gelar juga kenapa?" Yang paling ganjel adalah ketika saya bertanya pada diri sendiri "Seberapa pantes sih kamu pake gelar kamu?" Jujur, pas mau nambahin gelar di CV, dua huruf itu menjadikan saya memiliki tanggungjawab moral yang lebih besar. I know I work very hard for the title, I earned it. Tapi pada akhirnya saya sampai pada kesimpulan "I don't think people will respect me because of my title, but because the true you, Ay." Kayaknya sindrom ini sudah saya rasakan semenjak sering naik ojek online dan ditanya drivernya "Kuliah neng? Di mana?" Trus pas udah jawab sampe jurusan dan peminatannya dan ditanggapi balik "Wah pinter dong?" "Wah semoga sukses ya" Jujur, siapa yang tidak senang dipuji. Tapi habis itu jadi mikir "Malu Ay sama gelar kalau belum bisa ngasih sesuatu ke masyarakat"

Dari jawaban teman-teman saya, kebanyakan masih tidak menuliskan gelarnya, bahkan yang sudah lulus S1 beberapa tahun silam. Cara pandang millenials sepertinya sudah berubah akan gelar tersebut. Secara garis besar kalau ditanya, mereka juga jawabnya "Buat apa sih?" Entahlah apakah mereka merasa ada beban juga kalau menambahkan gelar seperti yang saya rasakan, belum sempat in-depth interview.

Sejauh ini saya memang baru memakai gelar saya di caption salah satu post Instagram saya, haha. Belum memakai gelar karena masih malu-malu sudah sarjana tapi belum punya apa-apa dan masih pada pemikiran "Untuk apa?" Masih banyak juga kan orang hebat yang ada di sekitar kita tapi tidak punya gelar apa-apa namun kontribusinya sudah jauh dibanding yang sudah bergelar. Pada akhirnya, di akhirat nanti kan gak ditanya juga "Apa gelarmu?" :D 

Comments